Amerika Serikat dan Iran dikabarkan hampir capai kesepakatan akhiri perang

Amerika Serikat dan Iran semakin mendekati kesepakatan untuk mengakhiri perang, kata sebuah sumber regional yang mengetahui negosiasi tersebut. Gedung Putih juga dikabarkan telah menerima umpan balik positif dari mediator Pakistan pada Selasa (5/5).

Dikutip dari CNN, dua pejabat pemerintahan AS mengatakan Iran juga tengah mempertimbangkan kompromi. Meski demikian, sumber tersebut menyampaikan adanya skeptisisme, apalagi pembicaraan sebelumnya pernah gagal pada menit-menit terakhir.

Dorongan untuk AS dan Iran kembali berunding telah muncul lagi beberapa waktu belakangan. Presiden AS Donald Trump juga dikabarkan telah menyederhanakan isu dalam negosiasi sehingga Iran bisa kembali berunding.

Sumber yang mengetahui wacana perundingan mengatakan, mereka menyiapkan rencana satu halaman yang berisi ketentuan ini negosiasi. Isinya antara lain menyatakan berakhirnya perang sekaligus memulai periode negosiasi 30 hari.

Baca juga:

  • Trump Hentikan Sementara Operasi AS di Selat Hormuz Demi Negosiasi dengan Iran

Dalam negosiasi tersebut, Iran dan AS akan membahas sejumlah poin yang masih menjadi kendala. Beberapa di antaranya soal pencairan aset Iran, nuklir, hingga keamanan Selat Hormuz.

Kapal Tanker di Selat Hormuz (Reuters) 

Sumber yang mengetahui rencana perundingan itu juga mengatakan hal terkait nuklir yang akan dibahas termasuk moratorium pengayaan uranium untuk jangka waktu lebih dari 10 tahun. Sebelumnya, AS mendesak Iran menetapkan moratorium nuklir selama 20 tahun.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menyatakan Operasi Epic Fury telah selesai karena dianggap telah memenuhi target strategis Washington. Pernyataan tersebut juga berkaitan dengan batas waktu kewenangan perang atau War Powers Act yang membatasi operasi militer tanpa persetujuan Kongres.

“Operasi Epic Fury telah selesai. Kami telah mencapai tujuan dari operasi tersebut. Kami tidak menginginkan situasi tambahan terjadi. Kami lebih memilih jalur damai. Apa yang diinginkan presiden adalah sebuah kesepakatan,” kata Rubio, sebagaimana diberitakan oleh Reuters pada Rabu (6/5).

Namun, sumber CNN mengatakan bahwa semakin keras AS mendorong agenda Proyek Kebebasan di Selat Hormuz dan Operasi Epic Fury, maka potensi kelompok garis keras di Iran bangkit akan semakin besar.

Saat ini, prioritas utama Trump adalah menemukan jalan keluar diplomatik. Namun, sang Presiden juga masih sempat mengancam akan kembali menyerang Iran jika negosiasi kembali buntu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *