Atur strategi diversifikasi valas, dolar AS masih jadi lindung nilai jangka pendek

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut seiring tingginya ketidakpastian global. 

Mata uang garuda terus mencatat rekor pelemahan terbaru. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 17.394 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Senin (4/5/2026). Bahkan, pada perdagangan Selasa (5/5/2026), nilai tukar rupiah menyentuh Rp 17.427 per dolar AS. 

Dalam kondisi ini, investor perlu menerapkan strategi diversifikasi mata uang untuk menjaga nilai aset.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan dolar Amerika Serikat AS masih menarik sebagai instrumen lindung nilai jangka pendek karena tetap menjadi aset yang diburu saat pasar global bergejolak.

Analis Proyeksikan Rupiah Menembus Level Rp17.550 per Dolar AS Pekan Ini

“Namun potensi penguatannya tidak lagi sebesar awal krisis, karena fundamental dolar dapat kembali melemah pada paruh kedua tahun jika ketegangan mereda,” ujar Josua kepada Kontan, Senin (4/5/2026).

Selain dolar AS, Josua menilai dolar Singapura dapat menjadi alternatif defensif.

“Dolar Singapura masih menarik karena stabilitas kebijakan dan karakter ekonominya yang kuat, terutama bagi investor yang ingin mengurangi gejolak dibanding memegang dolar Amerika sepenuhnya,” kata Josua.

Sementara itu, franc Swiss dinilai tetap relevan sebagai mata uang safe haven global, meskipun pergerakannya terhadap rupiah relatif mahal dan likuiditasnya terbatas bagi investor ritel.

Menurut Josua, yen Jepang lebih bersifat taktis. Mata uang tersebut masih lemah, tetapi berpotensi menguat jika intervensi otoritas Jepang berlanjut, terutama setelah pasangan USD/JPY sempat menembus level 160.

Tekanan Belum Reda, Rupiah Tergelincir ke Level Rp 17.429 per Dolar AS

Untuk investor dengan profil risiko lebih tinggi, mata uang Asia seperti won Korea Selatan dan dolar Taiwan dapat menjadi pilihan, terutama jika sentimen sektor teknologi dan kecerdasan buatan kembali menguat.

Namun, keduanya tetap rentan bila harga minyak naik lagi dan dolar Amerika menguat.

Josua menekankan bahwa strategi yang lebih bijak bukan mengejar satu mata uang tertentu, melainkan membagi eksposur.

“Strategi yang lebih bijak bukan mengejar satu mata uang, melainkan membagi eksposur antara dolar Amerika untuk perlindungan jangka pendek, dolar Singapura untuk stabilitas, dan sebagian kecil pada mata uang yang berpotensi menguat bila ketegangan mereda,” kata Josua.

Ia juga mengingatkan pelaku usaha untuk lebih fokus pada manajemen risiko dibanding spekulasi.

Josua berharap pelaku usaha dapat mencocokkan kebutuhan valas dengan kewajiban impor, cicilan, dan pembayaran dividen agar tidak terkena tekanan kurs mendadak.

Pada pekan ini rupiah masih berada dalam tekanan dan peluang menguji rekor terlemah baru tetap ada apabila minyak kembali naik dan dolar menguat. 

“Namun dalam skenario dasar, saya melihat rupiah lebih mungkin bergerak lemah terbatas di kisaran Rp 17.250 sampai Rp 17.500, dengan target akhir Mei sekitar Rp 17.200 sampai Rp 17.450,” ujar Josua.

Ia menambahkan, penguatan rupiah baru akan lebih solid jika risiko geopolitik mereda, harga minyak turun, serta kebijakan domestik mampu menjaga kepercayaan pasar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *