BI pastikan tetap berada di pasar untuk stabilkan rupiah

Jakarta, IDN Times – Bank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme berjalan dengan baik sekaligus mempertahankan stabilitas rupiah sesuai fundamentalnya.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada perdagangan kemarin ditutup di level Rp17.423,5 per dolar AS, atau tercatat sebagai level terendah sepanjang sejarah.

1. Pelemahan rupiah tidak sendiri

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan pergerakan rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang negara berkembang lainnya.

Beberapa data pergerakan mata uang sejak awal konflik:

  • Philippine Peso melemah 6,58 persen

  • Thailand Baht melemah 5,04 persen

  • India Rupee melemah 4,32 persen

  • Chile Peso melemah 4,24 persen

“Sedangkan rupiah melemah 3,65 persen, dan Korea Won 2,29 persen,” tegas Hutapea.

2. BI optimalkan intervensi di pasar valas

Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui berbagai instrumen, antara lain:

  • Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore

  • Transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik

  • Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder

Langkah-langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang berlanjut.

“Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk selalu hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tambah Hutapea.

3. Pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan musiman

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih dipengaruhi faktor eksternal dan musiman, bukan karena kondisi ekonomi domestik yang rapuh. Sejumlah indikator utama, menurutnya, masih berada dalam kondisi positif.

“Nilai tukar saat ini memang undervalue, dan ke depan kami yakin akan stabil bahkan menguat,” ujar Perry.

Ia merinci beberapa fondasi ekonomi yang mendukung rupiah:

  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen

  • Inflasi tetap rendah

  • Kredit tumbuh tinggi

  • Cadangan devisa berada pada level kuat

“Ini adalah fundamental yang menunjukkan rupiah seharusnya stabil dan cenderung menguat,” tambah Perry.

Purbaya Sebut RI Akan Terbitkan Panda Bond untuk Perkuat Rupiah Rupiah Undervalue, BI Siapkan 7 Langkah Penguatan Rupiah Tembus Rp17.400, Airlangga Sebut Permintaan Dolar AS Naik saat Musim Haji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *