Bos BI sebut bisa kembalikan rupiah ke rata-rata Rp16.500 dari saat ini Rp16.900

Scoot.co.id , JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa masih bisa membawa nilai tukar rupiah kembali ke rata-rata sepanjang tahun Rp16.500 per dolar Amerika Serikat (AS) atau kisaran Rp16.200 sampai Rp16.800 per dolar Amerika Serikat (AS). Bank sentral memprakirakan rupiah akan mulai menguat pada sekitar Juli-Agustus 2026. 

Pada rapat bersama Komisi XI DPR, Senin (18/5/2026), Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa rupiah yang saat ini di level melampaui Rp17.600 masih di bawah nilai fundamentalnya (undervalue) yaitu Rp16.500 sebagaimana asumsi makro APBN. Pada UU APBN, rupiah ditargetkan pada level Rp16.500 atau bergerak di kisaran Rp16.200 sampai Rp16.800 per dolar AS. 

Nilai fundamental rupiah tersebut ditentukan sejalan dengan berapa tingkat inflasi hingga pertumbuhan ekonomi pada tahun yang sama. Dalam hal ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia saja tumbuh 5,61% (yoy) pada kuartal I/2026. 

: IHSG dan Rupiah Melemah, BI Diprediksi Kerek Suku Bunga

“Karena sesuai makronya rata-rata Rp16.500, batasannya Rp16.800, kami bisa bawa ke sana. Seasonality-nya April, Mei, Juni karena [dolar] demand-nya lagi tinggi. Seperti itu, dan nanti Juli, Agustus akan menguat, sehingga secara keseluruhan kami masih ke sana,” terangnya di hadapan Komisi XI DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Menurut Perry, kendati rupiah sudah berada di level Rp17.600 hari ini, rata-rata secara tahun berjalan atau year to date (YtD) masih sebesar Rp16.900. Dia tidak menampik bahwa nilai rata-rata ini juga masih melampaui kisaran fundamental rupiah seharusnya. 

: : BI Prediksi Rupiah Mulai Kembali Menguat Juli-Agustus

Berdasarkan perhitungan BI, deviasi nilai tukar rupiah saat ini masih 5,4%. Bagi bank sentral, ini adalah level yang masih dianggap stabil.

“Stabilitas bukan level, tetapi adalah bagaimana naik turunnya, yang kami dekati adalah standar deviasi yang rolling selama 20 hari,” jelasnya.  

: : Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.655 per Dolar AS Imbas Gejolak Harga Minyak

Oleh sebab itu, Perry meyakini rupiah masih berpotensi kembali ke level rata-rata potensialnya yaitu dalam rentang Rp16.200 sampai Rp16.800. Dia memperkirakanrupiah akan mulai menguat pada Juli-Agustus, seiring dengan selesainya musim haji, repatriasi dividen korporasi serta pembayaran utang luar negeri. 

Perry lalu berkaca pada momen Februari 2025 ketika Presiden AS Donald Trump pertama kali mengumumkan tarif impor resiprokal. Saat itu, rupiah sempat mengalami tekanan lalu berhasil menguat. 

Kemudian, pada 2026, serangan AS-Israel ke Iran yang memulai gejolak perang di kawasan negara Teluk kini meningkatkan risiko geopolitik. Oleh karena itu, credit default swap (CDS) atau persepsi investor atas risiko gagal bayar utang suatu negara meningkat. 

“Itu risiko. Itu memang globalnya, saya tidak ingin menyalahkan global, ini semua negara menghadapi,” ujar Gubernur BI dua periode itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *