Charoen Pokphand (CPIN) raih kenaikan laba di awal 2026, cek rekomendasi sahamnya

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja keuangan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menunjukkan pertumbuhan yang solid sepanjang periode kuartal I-2026, tercermin dari peningkatan penjualan hingga laba bersih.

Melansir laporan keuangannya, penjualan bersih CPIN tercatat sebesar Rp 19,95 triliun, meningkat 12,69% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar Rp 17,7 triliun.

Sejalan dengan itu, beban pokok penjualan juga naik menjadi Rp 15,49 triliun dari sebelumnya Rp 14,57 triliun.

Meski demikian, laba bruto perusahaan tetap mengalami peningkatan signifikan menjadi Rp 4,46 triliun, dari Rp 3,13 triliun pada periode sebelumnya. 

Simak Prospek Charoen Pokphand (CPIN) Usai Laba Bersih Melonjak 52% pada 2025

Dari sisi operasional, beban penjualan meningkat menjadi Rp 578,93 miliar, sementara beban umum dan administrasi naik ke Rp 573,42 miliar.

Di sisi lain, perusahaan membukukan penghasilan operasi lain sebesar Rp 69,12 miliar, meski beban operasi lain juga tercatat sebesar Rp 20,54 miliar.

Alhasil, laba usaha perusahaan melonjak menjadi Rp 3,43 triliun dari Rp 2,10 triliun pada periode sebelumnya.

Setelah memperhitungkan beban keuangan sebesar Rp 104,63 miliar, laba selisih kurs Rp 10,78 miliar, serta penghasilan keuangan Rp 38,19 miliar, laba sebelum pajak penghasilan tercatat sebesar Rp 3,38 triliun, meningkat dari Rp 1,99 triliun.

Adapun beban pajak penghasilan naik menjadi Rp 801,63 miliar, sehingga laba periode berjalan tercatat sebesar Rp 2,58 triliun, tumbuh dari Rp 1,54 triliun pada periode sebelumnya.

Kinerja Tumbuh Positif Sepanjang 2025, Simak Rekomendasi Saham CPIN

Selain itu, perusahaan juga mencatat penghasilan komprehensif lain dari pengukuran kembali liabilitas imbalan kerja sebesar Rp 2,06 miliar. Dengan demikian, total penghasilan komprehensif periode berjalan mencapai Rp 2,58 triliun.

Dari sisi bottom line, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih CPIN mencapai Rp 2,57 triliun, naik 67,72% yoy dari sebelumnya Rp 1,53 triliun.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai kinerja solid CPIN pada kuartal I-2026 ditopang oleh kombinasi kenaikan harga jual ayam serta perbaikan volume penjualan. 

Kondisi ini sejalan dengan mulai membaiknya keseimbangan antara pasokan dan permintaan di industri perunggasan.

“Prospek hingga akhir tahun cenderung positif dengan potensi pertumbuhan berlanjut, didukung stabilnya harga ayam dan efisiensi biaya,'” kata Azis kepada Kontan, Rabu (6/5/2026). 

Tetapi memang di sisi lain masih ada risk yang bisa diperhatikan seperti pelemahan rupiah ini juga bisa mengakibatkan adanya kenaikan cost pada bahan pakan seperti soybean meal (SBM).

Prospek Harga Ayam Broiler Jadi Katalis, Simak Rekomendasi Saham CPIN

Dari sisi pergerakan saham, Azis melihat valuasi CPIN saat ini sudah berada di bawah minus dua standar deviasi (SD-2) secara price to earnings ratio (P/E), sehingga tergolong undervalued.

” Dengan perbaikan kinerja yang terjadi, saham CPIN dinilai memiliki peluang untuk mengalami rebound secara teknikal,” tambah Azis.

Secara terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pertumbuhan laba double digit CPIN ditopang kombinasi fundamental perusahaan yang solid serta momentum kebijakan pemerintah.

Nafan bilang CPIN konsisten melakukan ekspansi margin sekaligus meningkatkan efisiensi operasional, sehingga mampu mendorong pertumbuhan laba yang lebih tinggi. Stabilnya harga bahan baku pakan turut membantu menjaga kinerja perusahaan. Selain itu, efisiensi biaya operasional juga menjadi faktor pendukung utama.

Ia menambahkan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah turut menjadi pendorong permintaan. 

“Ada demand booster dari MBG,” ucap Nafan kepada Kontan, Jumat (8/5/2026).

Dengan integrasi bisnis yang kuat dari hulu hingga hilir, CPIN dinilai menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan dari peningkatan volume permintaan tersebut. 

Ketidakpastian Kebijakan, Maybank Pangkas Target Saham Emiten Poultry JPFA dan CPIN

Di sisi lain, konsumsi domestik terhadap protein murah seperti ayam juga masih tergolong solid.

Meski prospek CPIN dinilai masih cukup positif, Nafan melihat pertumbuhannya cenderung moderat. Keberlanjutan program MBG menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan. 

Selain itu, pengendalian populasi ayam melalui kebijakan culling juga diperlukan agar pasokan tetap terjaga dan harga ayam hidup berada di level yang menguntungkan bagi peternak.

Nafan juga mengingatkan adanya sejumlah sentimen negatif yang perlu dicermati, seperti pelemahan rupiah serta kenaikan biaya distribusi dan logistik yang dapat meningkatkan beban operasional perusahaan.

Cermati Rekomendasi Saham Poultry: JPFA, CPIN, MAIN dan AYAM untuk Senin (17/11)

Nafan menyarankan investor untuk akumulasi beli saham CPIN di level target harga Rp 5.150 per saham. Sementara, Azis merekomendasikan trading buy pada saham CPIN dengan target harga di level Rp 4.400.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *