
Scoot.co.id JAKARTA. Pasar keuangan global diproyeksikan akan menghadapi gelombang tantangan signifikan pada kuartal II-2026, didorong oleh dua pilar utama: eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan perubahan dinamis dalam kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed.
Dalam laporan terbarunya, Chief Investment Office (CIO) DBS Group menekankan pentingnya strategi manajemen risiko yang proaktif bagi investor. Di tengah iklim ketidakpastian ini, diversifikasi portofolio menjadi krusial, dengan rekomendasi khusus untuk meningkatkan eksposur pada aset lindung nilai seperti emas.
Salah satu risiko dominan berasal dari konflik yang berkecamuk di Timur Tengah, berpotensi memicu lonjakan harga energi secara global. Situasi di Selat Hormuz, sebagai jalur vital bagi perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, akan menjadi barometer krusial. Kenaikan harga energi ini, jika terjadi, dikhawatirkan dapat memicu inflasi yang lebih tinggi dan membatasi ruang gerak bank sentral untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter.
Di sisi lain, kebijakan The Fed juga menjadi sorotan utama. Meskipun ada peluang pemangkasan suku bunga yang dapat memberikan stimulus bagi pasar, narasi kebijakan yang berubah juga membuka kemungkinan pengetatan likuiditas melalui mekanisme quantitative tightening. Kedua skenario ini sama-sama membawa implikasi signifikan terhadap ketersediaan dana dan sentimen investor.
Menyikapi dinamika tersebut, DBS melihat adanya pergeseran fundamental dalam alokasi investasi global. Investor mulai didorong untuk mengurangi eksposur pada aset yang terlalu padat (crowded trades) dan mengalihkan fokus ke pasar negara berkembang serta Jepang yang menawarkan potensi pertumbuhan baru.
Secara keseluruhan, CIO DBS Group menyatakan pandangan yang netral terhadap berbagai kelas aset. Meskipun demikian, mereka tetap memberikan panduan strategis berdasarkan prospek ekonomi dan valuasi masing-masing pasar.
Strategi Mengelola THR dengan Bijak dan Berkesadaran Agar Keuangan Tetap Terjaga
Meskipun menghadapi moderasi, ekonomi AS menunjukkan ketahanan yang cukup solid dan belum mengindikasikan risiko resesi pada tahun ini. Proyeksi pertumbuhan laba perusahaan global juga tetap optimis, diperkirakan mencapai sekitar 17% pada tahun 2026, menandakan fundamental bisnis yang masih kuat.
Dalam segmen pasar ekuitas, DBS mempertahankan pandangan netral untuk saham-saham AS. Sebaliknya, saham-saham di Asia, di luar Jepang, dianggap masih menarik berkat valuasi yang kompetitif dan prospek pertumbuhan laba yang menjanjikan. Untuk pasar Jepang, peringkat telah ditingkatkan menjadi netral, didukung oleh reformasi struktural dan stimulus fiskal pemerintah yang progresif.
Pada instrumen pendapatan tetap, DBS juga mengadopsi pandangan netral. Namun, mereka tetap menekankan preferensi kuat pada obligasi dengan peringkat investment-grade, menggarisbawahi pentingnya kualitas kredit di tengah volatilitas pasar.
Beralih ke aset alternatif, DBS tetap berpandangan positif terhadap emas. Logam mulia ini dinilai sebagai aset lindung nilai yang efektif di tengah ketidakpastian geopolitik dan potensi pelemahan dolar AS. Selain itu, dana lindung nilai (hedge fund) dipandang semakin relevan sebagai instrumen untuk menavigasi volatilitas pasar yang cenderung meningkat.
Terakhir, pada pasar mata uang, dolar AS diprediksi cenderung mengalami pelemahan. Fenomena ini disebabkan oleh menyempitnya kesenjangan pertumbuhan ekonomi global dan meningkatnya ketidakpastian seputar arah kebijakan moneter AS, yang secara kolektif mengurangi daya tarik dolar sebagai aset safe-haven.