Dolar AS sempat nyaris tembus Rp 17.400, apa faktornya?

Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,12% di level 17.346 per dolar AS pada perdagangan hari ini (30/4), setelah sempat nyaris menembus level baru di 17.400 per dolar AS. 

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 27 poin di level 17.353 per dolar AS. Sepanjang hari ini, rupiah diperdagangkan di level 17.337 hingga 17.393 per dolar AS. 

Sebagian mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia melemah 0,5%, rupee India 0,07%, dolar Taiwan 0,31%. Sedangkan baht Thailand menguat 0,54%, peso Filipina 0,18%, won Korea Selatan 0,77%, yen Jepang 0,68%, dan yuan Cina 0,18%.

Direktur PT Traze Andalan Future menjelaskan, pelemahan rupiah hari ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama menguatnya dolar AS. Indek dolar naik setelah Presiden AS Donald Trump bersiap memblokade angkatan laut Iran secara berkepanjangan yang meningkatkan ketidakpastian di Timur Tengah. 

“Harga minyak mentah dunia terus mengalami kenaikan, dengan Brent Crude Oil mencapai US$ 122 per barel dan WTI Crue Oil mencapai US$ 104 per barel. Kenaikan ini membuat kebutuan dolar AS untuk membeli minyak mentah semakin tinggi,” ujar Ibrahim, Kamis (30/4).

Selain itu, menurut dia, terdapat faktor hasil dari Rapat Dewan The Fed  hingga dampak kebijakan MSCI di pasar modal yang menahan aliran dana asing. Aliran modal asing keluar hingga mencapai Rp 15 triliun. 

Namun di sisi lain, menurut dia, BI terus melakukan intervensi secara lengkap sehingga mendorong pelemahan rupiah pada perdagangan sore ini sedikit menguat dibandingkan tadi siang. Ibrahim pun menilai,  BI perlu menjaga komunikasi agar pasar yakinbahwa pelemahan rupiah tidak akan dibiarkan menjadi tidak teratur. 

Rupiah Tertinggal di Kawasan

Peneliti Center of Macroeconomic and Finance Institute for Development of Economics and Finance, Abdul Manaf Pulungan menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang dinilai semakin menjauh dari asumsi dalam APBN. Kurs rupiah juga tertinggal dibandingkan mata uang negara lain di kawasan. 

Dalam APBN 2026, pemerintah menargetkan nilai tukar rupiah berada di kisaran 16.500 per dolar AS.  “Ini sudah sangat jauh dari target APBN. Artinya tekanan terhadap rupiah jauh lebih besar dari yang diantisipasi,” ujar Abdul Manaf dalam diskusi publik, Kamis (30/4).

Abdul menyebut, pada kuartal I-2026, rupiah tercatat melemah sekitar 2,8%. Sebaliknya, sejumlah negara di kawasan justru mengalami penguatan, seperti Malaysia yang menguat sekitar 8,7%, serta Singapura 4,2%, Thailand 3,9%, dan China 5% yang juga menunjukkan apresiasi terhadap dolar AS.

Korea Selatan juga sebenarnya juga mengalami depresiasi sebesar 2,8% sama seperti Indonesia. Namun, Abdul Manaf menilai dampaknya berbeda.

“Korea bisa memanfaatkan pelemahan mata uangnya untuk mendorong ekspor karena basis industrinya kuat. Indonesia tidak dalam posisi yang sama karena masih bergantung pada komoditas,” jelasnya.

Ia juga menyoroti meningkatnya indikator risiko seperti credit default swap (CDS) Indonesia yang sudah berada di atas level 100. Kondisi ini menandakan investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk menempatkan dana di dalam negeri.

“Ketika CDS meningkat, investor melihat risiko lebih tinggi. Jika imbal hasil tidak menarik, mereka bisa keluar dan mencari instrumen lain yang lebih menguntungkan,” katanya. 

Situasi ini menjadi semakin menantang karena pasar valuta asing domestik relatif dangkal, dengan transaksi harian sekitar 7 miliar dolar AS, jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara lain di kawasan. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah menjadi lebih mudah terjadi ketika terjadi arus keluar modal. 

Di sisi global, indeks dolar AS atau US Dollar Index justru mengalami pelemahan dari level 104 ke sekitar 99. Namun, Indonesia dinilai tidak mampu memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat rupiah.

“Ini menunjukkan ada persoalan fundamental di dalam negeri. Ketika dolar melemah, seharusnya rupiah bisa menguat, tapi yang terjadi justru sebaliknya,” kata dia.

Selain itu, likuiditas cadangan devisa yang digunakan untuk intervensi juga disebut mengalami penurunan, dari sekitar US$ 157 miliar menjadi US$ 148 miliar. Meski sudah digunakan untuk menjaga stabilitas, langkah tersebut dinilainya belum cukup menahan tekanan terhadap rupiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *