
Scoot.co.id JAKARTA. Setelah sebulan terakhir mengalami tren penurunan, kini harga emas dunia tampak melanjutkan penguatannya pada perdagangan Rabu (6/5), seiring meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah yang turut menekan harga energi dan kekhawatiran inflasi.
Mengutip Bloomberg,Rabu (6/5/2026) pukul 12.48 WIB, harga emas spot ada di level US$ 4.651,02 per ons troi, naik 2,06% dari sehari sebelumnya. Sejak awal tahun, harga emas spot sudah naik 7,68%.
Sejalan dengan itu, harga emas batangan bersertifikat di Logam Mulia PT Aneka Tambang (ANTM) naik Rp 30.000 per gram, dari sebelumnya Rp 2.760.000 per gram menjadi Rp 2.790.000 per gram.
Bitcoin Tembus US$ 81.000, Target US$ 100.000 Makin di Depan Mata
Kenaikan ini terjadi setelah muncul sinyal de-eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyatakan bahwa gencatan senjata yang telah berlangsung hampir satu bulan masih tetap terjaga.
Senada, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengonfirmasi bahwa operasi ofensif telah berakhir. Pemerintah AS kini mengalihkan fokus pada pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump juga mengumumkan jeda sementara dalam upaya membantu kapal-kapal yang terdampak di kawasan tersebut.
Jika ditarik lebih jauh, dalam sebulan terakhir harga emas sempat lesu. Bahkan, sempat menyusut ke level US$ 4.516 per ons troi pada Senin (5/5) pagi.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menjelaskan tren pelemahan harga emas sebulan terakhir didorong oleh korelasi negatif yang kuat terhadap lonjakan yield obligasi AS 10-tahun dan penguatan dolar AS.
Total Bangun Persada (TOTL) Akan Bagi Dividen Rp 375,1 Miliar, Berikut Jadwalnya
Meskipun ketegangan di Selat Hormuz biasanya memicu permintaan safe-haven, kenaikan harga minyak yang sempat ke level US$ 114 per barel justru menciptakan ekspektasi inflasi baru yang memaksa bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi (higher-for-longer).
“Kondisi ini meningkatkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas, sehingga investor cenderung beralih ke instrumen likuid lain yang lebih menguntungkan dalam jangka pendek,” jelas Sutopo kepada Kontan, Selasa (5/5/2026).
Secara teknis, Sutopo menyebut reli harga emas saat ini sedang mengalami fase koreksi sekunder yang cukup dalam setelah mencapai puncaknya di bulan Februari. Skenario terburuk tahun ini dapat membawa harga emas spot menguji level dukungan klasiknya di kisaran US$ 4.100 jika inflasi terus membandel dan The Fed merealisasikan kenaikan suku bunga tambahan.
Untuk harga emas Antam, pelemahan global ini terserap secara bertahap di pasar domestik, dengan potensi penurunan mencapai area Rp 2.500.000 hingga Rp 2.600.000 per gram apabila sentimen negatif global terus berlanjut tanpa adanya pelemahan Rupiah yang signifikan.
Sehingga, Sutopo menyarankan strategi terbaik bagi investor saat ini adalah melakukan evaluasi ulang terhadap horizon investasi.
IHSG Menguat ke 7.102,7 di Sesi Pertama Hari Ini, Top Gainers LQ45: UNVR, AMRT, ESSA
“Jika fokus Anda adalah jangka panjang, posisi hold tetap relevan sebagai lindung nilai terhadap risiko geopolitik yang belum sepenuhnya reda,” bubuhnya.
Namun, bagi investor yang ingin masuk, disarankan untuk menggunakan metode akumulasi bertahap (buy on weakness) guna mendapatkan harga rata-rata yang lebih kompetitif di tengah volatilitas tinggi.
Katanya, memotong kerugian hanya disarankan bagi pelaku pasar jangka pendek, mengingat prospek emas di sisa tahun 2026 diprediksi Sutopo akan bergerak konsolidatif dalam rentang US$ 4.300 – US$ 4.800 menunggu kejelasan kebijakan moneter global.
Sementara itu, harga emas Antam diproyeksi bergerak di kisaran Rp 2.700.000 – Rp 2.800.000 tergantung perubahan kurs rupiah.