Harga energi naik tajam, premi risiko geopolitik meningkat jadi pemicu

Scoot.co.id JAKARTA. Lonjakan harga komoditas energi dalam beberapa waktu terakhir dinilai dipicu kombinasi ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan global. 

Kondisi tersebut berpotensi memperbesar tekanan inflasi dunia hingga membebani negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.

Melansir Trading Economics pada Minggu (17/5/2026) pukul 13.15 WIB, harga minyak Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 10,48% sepekan terakhir dan 11,33% dalam sebulan menjadi US$ 105,4 per barel.

Harga Energi Menguat Tajam, Brent Diproyeksi Tembus ke US$ 122 per Barel

Sementara minyak Brent menguat 7,8% sepekan dan 9,9% sebulan ke level US$ 109,3 per barel. Di saat bersamaan, harga gas alam juga terkerek 7,3% mingguan dan 11,8% sebulan menjadi US$ 2,96 per mmbtu.

Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai faktor utama kenaikan harga minyak dan gas alam berasal dari kebuntuan diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang meningkatkan ekspektasi pasar terhadap berlanjutnya konflik geopolitik.

Menurutnya, penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap respons Iran atas proposal perdamaian memicu kekhawatiran berkepanjangan mengenai stabilitas kawasan Timur Tengah.

Selain itu, ancaman gangguan di Selat Hormuz turut memperbesar premi risiko di pasar energi global. Selat Hormuz diketahui menjadi jalur distribusi utama yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

“Ancaman blokade atau gangguan lalu lintas kapal tanker di wilayah ini menciptakan premi risiko yang sangat tinggi terhadap harga energi,” ujar Wahyu kepada Kontan, Rabu (13/5/2026).

Ia menambahkan, kenaikan harga energi juga didorong oleh penyusutan stok minyak global. Data terbaru menunjukkan cadangan minyak mentah di Amerika Serikat berkurang sekitar 2,1 juta barel, sementara gangguan pasokan dari Timur Tengah diperkirakan menyebabkan kehilangan suplai global hingga 10,8 juta barel per hari pada Mei 2026.

Instrumen Ini Bisa Dilirik Investor Ketika Pasar Saham dan Rupiah Bergejolak

Kenaikan harga minyak dan gas tersebut dinilai membawa dampak luas terhadap ekonomi global. Wahyu mengatakan, biaya logistik dan harga bahan bakar berpotensi meningkat, sementara negara pengimpor energi seperti Indonesia menghadapi risiko pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan beban subsidi energi dalam APBN.

“Bagi Indonesia, lonjakan harga energi berpotensi memperbesar tekanan fiskal dan memperlemah rupiah,” jelasnya.

Untuk prospek sepanjang 2026, Wahyu memperkirakan harga energi masih akan sangat ditentukan oleh perkembangan konflik di Timur Tengah, khususnya situasi di Selat Hormuz.

Harga minyak Brent diproyeksi bergerak di rentang US$ 85–US$ 120 per barel atau berkonsolidasi di sekitar US$ 100 per barel selama kuartal II-2026. Jika ketegangan geopolitik mulai mereda pada semester II, harga Brent berpotensi turun ke kisaran US$ 80–US$ 95 per barel.

Sementara itu, harga minyak WTI diperkirakan bergerak di rentang US$ 80–US$ 115 per barel, dengan peluang melandai ke kisaran US$ 70–US$ 90 per barel apabila kondisi geopolitik membaik.

Adapun harga gas alam diprediksi tetap volatil di kisaran US$ 2,0–US$ 3,5 per mmbtu. Namun, lonjakan sementara hingga US$ 5–US$ 8 per mmbtu masih mungkin terjadi apabila permintaan meningkat tajam atau terjadi gangguan distribusi LNG.

Simak Proyeksi Rupiah di Pekan Depan Usai Cetak Rekor Terlemah

Dalam skenario ekstrem, Wahyu menyebut harga minyak Brent berpotensi melonjak jauh lebih tinggi.

“Jika Selat Hormuz benar-benar tertutup permanen atau terjadi eskalasi militer yang merusak infrastruktur produksi, harga Brent bisa menembus US$ 150 hingga US$ 200 per barel,” ungkapnya.

Memasuki semester II-2026, Wahyu melihat tren kenaikan harga energi mulai kehilangan momentum seiring perlambatan ekonomi global dan perubahan perilaku pasar dari reli berbasis ketakutan (fear-driven rally) menuju fase konsolidasi yang lebih dipengaruhi data ekonomi dan perkembangan peristiwa geopolitik.

Wahyu juga menilai proyeksi harga minyak yang dibuat pada awal tahun lalu kini menjadi kurang relevan lantaran belum mengantisipasi eskalasi konflik AS-Iran yang terjadi sejak Februari hingga Maret 2026.

“Dinamika harga energi saat ini menunjukkan pasar mulai bergeser dari reli berbasis ketakutan menuju konsolidasi yang lebih bergantung pada data dan perkembangan konflik,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *