IHSG ambruk 22% sejak awal tahun 2026, saatnya investor ubah strategi portofolio

Scoot.co.id   JAKARTA. Tekanan di pasar keuangan domestik makin terasa. Investor di Tanah Air kini dihadapkan pada kondisi yang menuntut penyesuaian strategi portofolio, seiring melemahnya pasar saham dan rupiah yang terus tertekan ke level historis terendah.

Pada perdagangan Rabu (13/5/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,98% ke level 6.723,32.

Secara tahun berjalan (year to date/ytd), indeks sudah terkoreksi dalam hingga 22,25%, mencerminkan tekanan yang cukup dalam di pasar ekuitas.

Tekanan IHSG tidak hanya datang dari faktor eksternal, tetapi juga internal. 

IHSG Anjlok 20% Sejak Awal Tahun, Intip Prediksi Menjelang Rebalancing MSCI

Salah satu pemicu utama adalah keputusan rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengeluarkan 18 saham emiten asal Indonesia dari perhitungan indeks global tersebut. 

Langkah ini dinilai memperburuk sentimen investor asing terhadap pasar domestik.

Di saat yang sama, pasar keuangan juga terbebani oleh pelemahan rupiah yang semakin dalam terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

Pada Jumat (15/5), rupiah ditutup di level Rp 17.597 per dolar AS, melemah 0,39% dibandingkan hari sebelumnya. Posisi ini menjadi rekor terlemah sepanjang sejarah (all time high/ATH) penutupan rupiah.

Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management, Genta Wira Anjalu menilai, kondisi ini mencerminkan meningkatnya risk aversion baik di pasar global maupun domestik. 

Dalam situasi seperti ini, menurutnya, disiplin alokasi aset menjadi lebih penting dibanding mencoba menebak titik terendah pasar.

IHSG Ambruk 1,98% ke 6.723, Top Losers LQ45: CUAN, AMMN dan MDKA, Rabu (13/5)

“Fase koreksi justru bisa membuka peluang valuasi yang lebih menarik, terutama pada saham dengan fundamental kuat,” ujar Genta kepada Kontan.

Ia menambahkan, saham masih tetap relevan untuk investor jangka menengah hingga panjang. 

Selain itu, obligasi korporasi berkualitas juga menawarkan imbal hasil yang cukup kompetitif, sementara instrumen pasar uang dan deposito tetap menjadi pilihan bagi investor yang mengutamakan likuiditas dan perlindungan modal.

Di sisi lain, emas kembali dilirik sebagai aset safe haven di tengah meningkatnya volatilitas global. Tidak hanya itu, aset berbasis dolar AS atau instrumen dengan perlindungan alami terhadap pelemahan rupiah juga mulai kembali diminati investor.

Untuk strategi alokasi, Genta menyarankan pendekatan sesuai profil risiko. Investor agresif dapat menempatkan 60%–75% portofolio di saham, 15%–25% di obligasi, dan sisanya di pasar uang serta emas. 

Investor moderat disarankan mengalokasikan 40%–50% di saham, 30%–40% di obligasi, dan 10%–20% di aset defensif. 

Prediksi IHSG Hari Ini (13/5) Sebelum Libur Panjang Setelah Turun 3 Hari

Sementara investor konservatif lebih tepat menempatkan porsi saham hanya 10%–25%, dengan dominasi obligasi dan pasar uang 50%–70%, serta sebagian kecil di aset lindung nilai seperti emas.

Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, menekankan pentingnya diversifikasi di tengah pasar yang bergejolak. Menurutnya, diversifikasi dapat mengurangi risiko kerugian besar pada satu jenis aset.

Ia juga menyarankan strategi investasi secara berkala (rupiah cost averaging), bukan menunggu momen harga terendah yang sulit diprediksi.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menilai investor tidak perlu meninggalkan saham, tetapi perlu memperkuat porsi aset defensif dan lindung nilai. 

Bank Syariah Siap Ubah Strategi Funding usai POJK Investasi Terbit

Ia menyarankan fokus pada saham-saham yang diuntungkan oleh pelemahan rupiah atau yang berorientasi ekspor.

“Portofolio perlu diperkuat dengan emas, dolar AS, obligasi pemerintah tenor pendek-menengah, dan reksadana pasar uang,” ujarnya.

Menurut Budi, reksadana pasar uang berpotensi memberikan imbal hasil sekitar 4%–6% per tahun, sementara Surat Berharga Negara (SBN) berada di kisaran 6%–8%. 

Adapun emas tetap menjadi aset pelindung nilai yang kuat di tengah ketidakpastian, meski imbal hasilnya sangat bergantung pada siklus pasar global. Saham, di sisi lain, masih menawarkan potensi keuntungan tertinggi, namun dengan volatilitas yang juga lebih besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *