
Scoot.co.id JAKARTA. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) ikut terdampak dari pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Senin (18/5/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.668 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,4% dibanding penutupan Jumat (15/5/2026) yang berada Rp 17.597 per dolar AS.
Edwin Sebayang, Pengamat Pasar Modal sekaligus Direktur PT Purwanto Asset Management mengatakan, emiten di BEI yang paling berisiko di kondisi ini adalah mereka yang punya utang dolar AS besar, tetapi pendapatan didominasi rupiah dengan arus kas tipis dan hedging lemah.
Ada beberapa sektor emiten di BEI yang paling rentan dengan volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Pertama, sektor properti dan konstruksi. Emiten yang secara historis cukup sensitif di kondisi saat ini adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON).
GOTO dan TLKM Kompak Buyback Saham, Mana yang Lebih Menarik Dikoleksi?
“Sektor ini sensitif terhadap pelemahan rupiah karena punya leverage tinggi, penjualan domestik berbasis rupiah, refinancing bergantung suku bunga, dan permintaan properti melemah saat ekonomi melambat,” katanya kepada Kontan, Senin (18/5).
Kedua, sektor aviasi. Sektor ini sensitif lantaran leasing pesawat menggunakan dolar AS, harga avtur bergantung volatilitas dolar AS, biaya maintenance impor, dan sebagian pendapatan tetap rupiah.
“Yang paling sensitif adalah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA),” ungkapnya.
Ketiga, emiten dengan capital expenditure (capex) impor besar seperti sektor telekomunikasi, manufaktur berat, dan infrastruktur tertentu juga terdampak oleh pelemahan rupiah. Sebut saja, PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL).
“Walau sektor telekomunikasi defensif, pelemahan rupiah tetap bisa menekan margin,” tuturnya.
Keempat, sektor farmasi seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), dan PT Indofarma Tbk (INAF). Alasannya lantaran 85%-95% bahan baku masih impor. Mereka juga sulit menaikkan harga cepat karena adanya regulasi dan daya beli.
Kelima, sektor poultry lantaran bahan pakan ternak dan vaksin atau obat banyak yang berbasis impor. Emiten dari sektor ini yang bisa terdampak adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN).
Keenam, sektor otomotif seperti PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS). Ketujuh, sektor retail & consumer discretionary, dengan fokus bisnis utama di elektronik, lifestyle, dan retail impor.
Di sisi lain, emiten yang diuntungkan kala pelemahan rupiah adalah emiten komoditas berbasis ekspor, emiten dengan natural hedge, dan emiten berpendapatan dolar AS.
“Kelompok sektor komoditas yang paling diuntungkan adalah batubara seperti ADRO, PTBA, dan ITMG, CPO seperti AALI dan SMAR, serta nikel dan mineral seperti INCO dan MBMA,” katanya.
Edwin bilang, kinerja emiten-emiten tersebut ke depan masih prospektif. Sentimen positif penggeraknya berasal dari arah suku bunga The Fed, harga komoditas dunia, stabilitas fiskal dan defisit APBN, arus dana asing, serta intervensi Bank Indonesia (BI).
Jika rupiah masih terus melemah, emiten berisiko tinggi adalah emiten properti dengan leverage tinggi, emiten farmasi bermargin tipis, emiten poultry, dan emiten maskapai.
“Di sisi lain, emiten batubara, emiten emas, dan emiten export-oriented manufacturing bisa terdorong kinerjanya di kondisi ini,” tuturnya.
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo berpandangan, prospek emiten terdampak pelemahan rupiah masih akan bergantung pada stabilitas kurs, kemampuan melakukan hedging, serta strategi efisiensi biaya.
Persepsi Risiko Investasi (CDS) Indonesia Meningkat, Cermati Efeknya untuk Investor
“Jika rupiah terus melemah, margin sektor farmasi, poultry, dan otomotif berpotensi tetap tertekan akibat kenaikan biaya impor,” ujarnya kepada Kontan, Senin.
Untuk saham, investor bisa memilih emiten dengan natural hedge kuat, arus kas solid, serta eksposur ekspor tinggi. Saham komoditas seperti emiten batu bara dan CPO masih menarik sebagai defensive play terhadap pelemahan rupiah.
“Sementara pada sektor terdampak, investor dapat mencermati emiten yang memiliki fundamental kuat dan kemampuan menjaga margin melalui efisiensi operasional,” katanya.
Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus menambahkan, ICBP dari sektor consumer masih memiliki bisnis dari hulu ke hilir, sehingga punya resiliensi tinggi di kondisi saat ini.
“Apalagi market share mie instan dari merek ICBP besar, sehingga ketergantungan masyarakat terhadap mie instan dapat dikatakan cukup aman,” ungkapnya kepada Kontan, Senin.
Selain itu, MYOR juga punya eksposure ekspor sangat besar yang membuat pelemahan rupiah bisa memberikan keuntungan.
“ADRO dan MEDC juga terlihat menarik, begitu pun dengan INCO dan ANTM. Mereka berproduksi dalam bentuk rupiah, namun penjualan bisa dalam bentuk dolar AS” tuturnya.
Sayangnya, baik Edwin, Azis, dan Nico belum memberikan rekomendasi untuk emiten terkait.
Azis bilang, dalam kondisi saat ini, investor perlu lebih memperhatikan struktur utang valas, kemampuan hedging, margin operasional, serta sensitivitas emiten terhadap pergerakan kurs.
“Selain itu, investor sebaiknya lebih fokus pada emiten dengan cash flow kuat, eksposur ekspor besar, dan valuasi yang masih reasonable,” tuturnya.
Edwin melihat, investor harus fokus ke kualitas neraca, hindari jebakan harga saham “murah”, pilih emiten dengan natural hedge, dan terus perhatikan foreign cashflow.
Untuk jangka pendek, investor bisa fokus ke emiten dari sektor defensif, berarus kas kuat, berimbal hasil dividen bagus, dan berutang rendah.
“Sektor defensif adalah perbankan besar, telekomunikasi, dan consumer staples tertentu,” katanya.
Untuk jangka menengah, investor bisa mengakumulasi secara bertahap emiten eksportir, komoditas, dan yang berarus kas besar.
“Sementara, untuk trader, investor harus terus memperhatikan volatilitas rupiah, yield US Treasury, foreign flow harian, indeks dolar AS, dan harga komoditas. Ini karena market saat ini sangat macro-driven,” tuturnya.
Nico menyarankan investor untuk memperhatikan bisnis dari perusahaan tersebut, terutama eksposur mana yang dimiliki saat ini.
“Hal ini akan sangat membantu kita melakukan evaluasi di tengah pelemahan rupiah yang berpotensi terus melemah dalam beberapa bulan mendatang apabila kita tidak segera melakukan sesuatu,” katanya.