
Scoot.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (15/4/2026), di tengah kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih kurang mendukung.
Mengutip data Bloomberg Rabu (15/4/2026), rupiah di pasar spot tercatat melemah 0,09% secara harian ke level Rp 17.143 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah juga terdepresiasi 0,03% menjadi Rp 17.141 per dolar AS.
Tekanan Rupiah Masih Berlanjut di Tengah Outflow
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah terjadi meskipun indeks dolar AS berada di level terendah dalam enam minggu terakhir, seiring harapan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Namun demikian, tekanan terhadap rupiah masih terlihat dari arus keluar dana asing (outflow) yang berkelanjutan serta kondisi fundamental domestik yang dinilai belum sepenuhnya kuat.
Sentimen Menjelang RDG BI Jadi Fokus Pasar
Untuk perdagangan berikutnya, pelaku pasar diperkirakan akan lebih berhati-hati menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 21–22 April 2026.
Kupon Obligasi Korporasi Mulai Naik, Biaya Dana Berpotensi Makin Mahal
Minimnya rilis data ekonomi penting dalam jangka pendek juga membuat pergerakan rupiah cenderung dipengaruhi sentimen ekspektasi kebijakan moneter.
Lukman menambahkan bahwa kondisi tersebut berpotensi menjaga tekanan terhadap rupiah dalam waktu dekat.
“Dengan absennya data ekonomi penting besok, sentimen rupiah diperkirakan akan tetap lemah besok hingga menjelang pertemuan kebijakan moneter minggu depan,” ujar Lukman kepada Kontan
Ia memperkirakan rupiah pada perdagangan Kamis (16/4/2026) akan bergerak dalam kisaran Rp 17.100 hingga Rp 17.200 per dolar AS.
Geopolitik Timur Tengah Tambah Tekanan Pasar
Di sisi lain, Analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi menilai bahwa faktor geopolitik masih menjadi pendorong utama volatilitas rupiah, terutama perkembangan situasi di Timur Tengah.
Menurutnya, ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan Iran turut memicu kekhawatiran pasar global, termasuk pada aset negara berkembang seperti rupiah.
Komando Pusat AS disebut telah memperketat blokade pelabuhan Iran dan menghentikan arus perdagangan ekonomi yang masuk maupun keluar melalui jalur laut. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari tekanan lanjutan terhadap Teheran agar menerima kesepakatan gencatan senjata.
“Ini terjadi setelah pembicaraan gencatan senjata AS-Iran di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan,” ujar Ibrahim, Rabu (15/4/2026).
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Ikut Membebani Sentimen
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh lembaga internasional.
Grab Akuisisi Bisnis Foodpanda di Taiwan, Akankah Merger dengan GOTO Terjadi?
International Monetary Fund (IMF) menurunkan outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5% pada 2026, dari sebelumnya 5,1%. Sementara itu, Bank Dunia juga merevisi proyeksi menjadi 4,7% pada 2026.
Revisi ini turut menambah tekanan sentimen terhadap rupiah karena mencerminkan potensi perlambatan ekonomi global maupun domestik yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
Rupiah Diperkirakan Bergerak Fluktuatif
Untuk perdagangan Kamis (16/4/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun tetap cenderung melemah dalam rentang terbatas.
Sentimen geopolitik dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi global diperkirakan masih akan menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan mata uang Garuda dalam jangka pendek.
Dengan kombinasi tekanan eksternal dan domestik tersebut, pelaku pasar diperkirakan masih akan bersikap hati-hati menjelang keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia pada pekan depan.