MSCI hapus sejumlah saham RI, BEI: ketidakpastian pasar berkurang

Scoot.co.id , JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai pengumuman hasil rebalancing indeks MSCI memberikan kepastian bagi pasar saham Indonesia di tengah tingginya ketidakpastian global dalam beberapa waktu terakhir.

Pjs. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan pasar saham domestik sebelumnya dibayangi berbagai faktor eksternal, mulai dari gejolak geopolitik di Timur Tengah, fluktuasi harga komoditas, hingga pergerakan nilai tukar mata uang.

Selain itu, pelaku pasar juga menunggu keputusan MSCI  terkait hasil reviu indeks terbaru. Oleh karena itu, pengumuman MSCI setidaknya mengurangi salah satu sumber ketidakpastian yang selama ini membayangi pasar modal Indonesia.

: OJK Bicara Potensi Pasar Modal RI Turun ke Frontier Market Selepas Rebalancing MSCI

“Kita sudah pahami bersama bahwa ini adalah konsekuensi jangka pendek dari aksi reformasi transparansi pasar modal yang sudah kita lakukan. Apa yang disampaikan MSCI hari ini mengurangi satu unsur ketidakpastian. Tentu itu adalah sesuatu yang positif bagi pasar,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).

Dia menilai hasil rebalancing tersebut dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan pasar modal Indonesia ke depan bersama emiten dan seluruh pelaku pasar.

: : MSCI Picu Tekanan Pasar, OJK Sebut Saham RI Tetap Atraktif

Terkait metodologi perhitungan MSCI seperti free float, Jeffrey menegaskan setiap penyedia indeks memiliki metode masing-masing yang tidak dapat diintervensi oleh BEI.

Dia menjelaskan BEI sendiri juga mengelola berbagai indeks seperti IDX30, LQ45, dan IDX80 dengan metodologi berbeda. Sementara itu, MSCI dinilai lebih mengedepankan pendekatan kuantitatif dalam penyusunan indeks.

: : Rebalancing MSCI Buka Peluang Rotasi Dana Asing ke BBCA, BMRI hingga TLKM

Menurut Jeffrey, hal yang lebih penting bagi BEI adalah memastikan pasar modal Indonesia berjalan secara teratur, wajar, dan efisien, bukan merekayasa kondisi pasar agar memenuhi indeks tertentu.

Sebagai informasi, MSCI mengumumkan hasil MSCI May 2026 Index Review pada Selasa (12/5/2026) waktu setempat atau Rabu (13/5/2026) pagi WIB. Seluruh perubahan indeks akan berlaku pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026 dan efektif pada 1 Juni 2026.

Dalam review tersebut, MSCI tidak memasukkan saham Indonesia baru ke dalam MSCI Global Standard Index.

Sebaliknya, MSCI menghapus 6 saham Indonesia dari indeks tersebut, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT).

Di sisi lain, MSCI memasukkan kembali saham AMRT ke dalam MSCI Small Cap Index. Sementara itu, sebanyak 13 saham Indonesia dikeluarkan dari MSCI Small Cap Index, yakni PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk. (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG).

Selanjutnya, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO), PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA), PT MNC Studios International Tbk. (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk. (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS), dan PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG).

Menurut MSCI, MSCI Indonesia Index dirancang untuk mengukur kinerja saham-saham berkapitalisasi besar dan menengah di pasar Indonesia. Indeks tersebut mencakup sekitar 85% dari keseluruhan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *