MSCI masih freeze, saham konglomerat dituntut punya cerita baru

Scoot.co.id JAKARTA. Masa kejayaan saham-saham konglomerat dinilai belum berakhir. Namun, penguatannya ke depan diperkirakan tidak lagi hanya mengandalkan sentimen indeks MSCI, melainkan ditentukan oleh kualitas fundamental dan arah ekspansi bisnis emiten.

Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai masa kejayaan saham-saham konglomerat belum selesai, tetapi era kenaikan berbasis narasi semata mulai berubah dari awal yang berbasis sentimen MSCI menjadi kualitas fundamental. 

“Sementara sekarang investor global jauh lebih fokus pada kualitas fundamental, governance, likuiditas dan profitabilitas,” kata dia kepada Kontan akhir pekan lalu. 

Rencana Bagi Dividen Empat Emiten Masuk Cum Date Senin (18/5), Yield Tertinggi 9,68%

Reydi mengatakan kalau MSCI masih freeze, maka katalis saham konglomerat ke depan tidak bisa lagi hanya mengandalkan euforia indeks. Oleh karena itu, harus ada cerita baru yang bisa mendorong. 

“Seperti energi baru terbarukan, data center, kecerdasan buatan, hilirisasi, ekosistem kendaraan listrik, dan ekspansi bisnis yang benar-benar menghasilkan laba,” katanya. 

Menurutnya, saat ini investor lebih tertarik pada saham-saham bluechip konvensional  karena valuasi yang tawarkan lebih murah dan secara fundamentalnya terbukti ketimbang saham konglomerat.

Direktur Infovesta Utama Parto Kawito menjelaskan untuk saham-saham konglomerat tertentu yang sudah terkenal, hanya memerlukan pendorong sedikit dan harga saham bisa bergerak. 

Namun, kata Parto, ada perubahan dari kondisi sebelumnya, yaitu free float dan konsentrasi kepemilikan tinggi. Saham konglomerat yang masih perlu memenuhi ketentuan free float kemungkinan akan menunggu sampai tercapai. 

“Selain itu dengan bertambahnya free float akan relatif lebih sulit mengangkat harga sahamnya. Jadi saham konglomerat masih bisa, tetapi tidak signifikan seperti sebelumnya,” jelasnya.

Laba Emiten Pakan Ternak Tumbuh, Begini Prospek Kinerja CPIN, JPFA, dan MAIN

Menurut Parto, saham Indonesia masih sulit bangkit karena ragam industri yang relatif terbatas, seperti kecerdasan buatan alias Artificial Intelligence (AI), teknologi tinggi, bioteknologi hingga pertambangan rare earth. 

“MSCI akan menunggu implementasi dari perubahan peraturan BEI dan OJK. Setelah MSCI disetujui, belum tentu akan diikuti oleh para manajer investasi mengingat bobot yang kecil dan risiko yang susah diduga,” kata Parto. 

Parto menilai SRO perlu menggencarkan edukasi investor domestik ritel dan institusi dengan memanfaatkan dana denda atau CSR untuk mempromosikan produk berisiko rendah seperti reksa dana, obligasi, dan ETF emas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *