
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan pasar saham yang tercermin dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini tengah mengalami pelemahan.
Hingga sesi perdagangan I, Selasa (19/5/2026), IHSG ambruk 3,08% atau terpangkas 202,97 poin ke level 6.396,26. Ini melanjutkan pelemahan yang terjadi pada perdagangan hari sebelumnya yang melemah 1,85%.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menilai pelemahan IHSG dalam beberapa hari terakhir masih sejalan dengan tren pelemahan bursa saham di kawasan regional.
Friderica bilang, sejumlah bursa di negara lain bahkan mencatat penurunan yang lebih dalam, sementara sebagian lainnya hanya menguat tipis.
BUMA Internasional Grup (DOID) Berencana Buyback Saham US$ 6 Juta
Friderica menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global, termasuk meningkatnya tensi perang di Timur Tengah serta ekspektasi kebijakan moneter global yang diperkirakan masih akan ketat.
Selain itu, sentimen domestik juga dipengaruhi oleh keputusan rebalancing MSCI yang diumumkan pada 12 Mei waktu Amerika Serikat atau 13 Mei waktu Indonesia. Dampak keputusan itu berlanjut ketika perdagangan bursa kembali dibuka usai libur panjang.
Meski demikian, Friderica menilai pelemahan pasar masih tergolong moderat. Pada hari pertama setelah pengumuman MSCI, IHSG turun 1,98%, lalu kembali melemah 1,85% pada perdagangan 18 Mei 2026 setelah libur panjang
“Dinamika ini menunjukkan penyesuaian yang lebih berbasis fundamental. Jadi selalu kita sampaikan bahwa ini adalah konsekuensi logis dari berbagai transformasi di pasar modal yang kita lakukan,” kata Friderica di gedung BEI, Selasa (19/5/2026).
Ia menambahkan, pergerakan indeks saham saat ini dinilai semakin mencerminkan kondisi fundamental emiten. Pergerakan IHSG juga disebut relatif sejalan dengan indeks acuan MSCI maupun sub indeks utama seperti IDX LQ45, IDX30, dan IDX80.
CEO Danantara: Saham Bank BUMN Lagi Murah, Potensi Naiknya Besar
Menurut OJK, kondisi tersebut menunjukkan proses price discovery di pasar modal yang semakin sehat, di mana pergerakan harga saham lebih ditopang oleh aspek fundamental dibanding sekadar sentimen pasar.
“Menurut kami juga sangat baik dengan perbaikan yang dilakukan,” tambahnya.