
Pemerintah tengah mempersiapkan pembangunan supergrid Jawa-Sumatra. Jaringan transmisi listrik ini merupakan bagian dari proyek Green Supergrid atau jaringan transmisi hijau skala luas. BUMN kelistrikan, PT PLN (Persero) Tbk, menyatakan segera merampungkan kajian untuk jaringan yang akan membentang sejauh 112 kilometer tersebut.
VP Perencanaan Sistem Ketenagalistrikan PT PLN (Persero) Tbk Arief Sudianto mengatakan, Sumatra memiliki potensi listrik dari pembangkit tenaga air dan panas bumi atau geotermal yang dapat dimanfaatkan oleh Pulau Jawa. Nantinya, supergrid akan membuka jalan bagi aliran listrik bersih dari Pulau Sumatra ke Pulau Jawa.
“Harapannya kajian selesai dalam waktu dekat ini, terus persiapan pendanaannya, pengadaan, pembebasan lahan juga sudah dilakukan paralel,” kata Arief di Jakarta, Selasa (28/4). Rencananya, jaringan transmisi akan menggunakan kabel bawah laut dengan teknologi high voltage direct current (HVDC).
Jaringan tersebut dijadwalkan siap beroperasi secara komersil pada 2031, sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034. “Harapannya bisa konstruksi mungkin tahun-tahun depan,” ujar Arief.
Mengingat proyek ini mencakup wilayah yang luas, PLN kabarnya akan menggandeng beberapa mitra internasional maupun lokal. Pengerjaannya tidak dalam satu paket kemitraan, melainkan dibagi-bagi agar dikerjakan secara paralel.
Interkoneksi kelistrikan antarpulau ini digadang-gadang akan menyelesaikan masalah ketidaksesuaian atau missmatch antara sumber energi dengan sumber permintaan energi. Proyek ini akan menyalurkan listrik dari sumber energi baru terbarukan yang berada di daerah terpencil, menuju pusat kebutuhan listrik seperti kota besar, kawasan industri, atau wilayah padat penduduk.
PLN menargetkan pembangunan Green Supergrid sepanjang 47.758 kilometer sirkuit (kms) dalam 10 tahun ke depan. Rinciannya, jaringan Jawa-Madura-Bali sekitar 13.900 ribu kms; Sumatra 11.200 kms; Kalimantan 9.800 ribu kms; Sulawesi 9.000 kms; serta wilayah Indonesia timur meliputi Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara 3.900 ribu kms.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengakui besarnya potensi energi baru terbarukan di Indonesia, namun lokasinya jauh dari pusat kebutuhan listrik. Sebab itu, jaringan transmisi dan gardu induk dibutuhkan untuk memanfaatkan potensi tersebut.