Rupiah 2026 di tengah tekanan dolar AS, ada peluang BI rate naik

Scoot.co.id , JAKARTA – Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan dan telah menembus level psikologis di Rp17.500 per dolar AS. Namun demikian, potensi penguatan ke depan masih terbuka.

Pada perdagangan Jumat (15/5/2026) pukul 10.29 WIB, rupiah melemah 46 poin ke level Rp17.575 per dolar AS. Di saat yang sama, greenback menunjukkan penguatan dengan indeks dolar AS (DXY) yang menguat 0,23 poin ke 99,05.

Tim riset Samuel Sekuritas Indonesia dalam riset yang terbit pada 13 Mei 2026 memaparkan perkiraan level rupiah di akhir 2026 akan berada di level Rp16.900 per dolar AS, terdepresiasi dari posisinya di Rp16.162 per dolar AS pada 2024 dan Rp16.470 per dolar AS pada 2025.

: Pelemahan Rupiah Masih Bikin Gerah

“Indonesia sedang menghadapi tantangan ekonomi dan politik signifikan pada Mei 2026. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS telah membawa mata uang tersebut ke level terendah baru,” ujar riset tersebut, dikutip Jumat (15/5/2026).

Analis memperkirakan kondisi tersebut akan membuat Bank Indonesia akan menaikkan BI Rate guna stabilitas nilai tukar rupiah. Apalagi, ketegangan geopolitik Iran-AS yang sedang berlangsung menyulut harga minyak global, dan Indonesia merupakan negara net importir minyak.

: : Jurus Bank Indonesia hingga Menkeu Purbaya Stabilkan Rupiah

Samuel Sekuritas menilai, tren pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor ketidakpastian geopolitik global, meningkatnya tekanan inflasi, serta konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung.

“Ke depan, perekonomian Indonesia diperkirakan masih akan mengalami volatilitas akibat faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik dan fluktuasi harga komoditas global. Pelemahan rupiah tetap menjadi perhatian utama, dan langkah lanjutan dari Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan mungkin diperlukan,” tulis sekuritas.

: : Manufaktur Makin Terimpit Beban Pelemahan Rupiah

Sementara melansir laporan Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) pada 12 Mei 2026, diperkirakan nilai tukar rupiah tahun ini akan berangsur menguat meski posisinya lebih lemah dari 2025.

Dalam forecast laporan tersebut, rupiah dalam kuartal II/2026 diperkirakan akan ada di level Rp17.200, kemudian membaik di level Rp17.050 pada kuartal III/2026, dan menjadi Rp16.900 di kuartal IV/2026.

Riset tersebut menjelaskan bahwa tren pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi oleh gangguan pasokan energi berkepanjangan. Kerentanan Indonesia juga diperparah dengan cadangan minyak mentah yang relatif rendah.

Meski demikian, pemerintah yang telah mengamankan pasokan minyak dari Rusia hingga 150 juta barel diperkirakan akan sedikit memperkuat cadangan energi nasional.

Dari sisi moneter, riset menyebut bahwa Bank Sentral Indonesia tetap proaktif menstabilkan nilai tukar. Salah satu indikasinya adalah outstanding SRBI yang meningkat Rp126,7 triliun pada bulan April 2026 menjadi Rp957,9 triliun. Imbal hasil SRBI juga naik di atas 6%, mengangkat daya tarik Indonesia sebagai tujuan peredaran dana asing.

“Dengan latar belakang ini, kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) bulan ini meningkat, terutama dengan pertumbuhan kuartal pertama yang mencetak angka kuat 5,6% YoY,” tulis laporan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *