
Scoot.co.id – JAKARTA. Pergerakan rupiah sepanjang pekan ini masih berada dalam tekanan kuat di tengah memanasnya tensi geopolitik global dan sejumlah sentimen domestik lainnya.
Melansir data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah pada Senin (11/5) ditutup di level Rp 17.415 per dolar AS.
Sehari kemudian, mata uang Garuda sempat mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah di level Rp 17.514 per dolar AS sebelum menguat tipis menjadi Rp 17.496 per dolar AS pada Rabu (13/5/2026).
Sementara itu, rupiah di pasar spot bergerak fluktuatif cenderung melemah. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp 17.414 per dolar AS pada Senin (11/5/2026), lalu melemah hingga menyentuh Rp 17.528 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026).
Harga Minyak Melonjak, Bursa Asia Berguguran akibat Ketegangan AS-Iran
Pada perdagangan Rabu (13/5/2026), rupiah sempat menguat ke Rp 17.476 per dolar AS, tetapi kembali melemah ke level Rp 17.529 per dolar AS pada Kamis (14/5).
Pelemahan semakin mendalam pada penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026) menjadi Rp 17.597 per dolar AS.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah pada pekan ini dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal.
Dari sisi eksternal, pasar global dibayangi meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.
Presiden AS Donald Trump menilai respons Iran terhadap proposal perdamaian AS tidak dapat diterima, sehingga meningkatkan kekhawatiran konflik berkepanjangan di kawasan Teluk.
Rupiah Spot Ditutup Melemah 0,39% ke Rp 17.597 per Dolar AS pada Jumat (15/5)
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut memperbesar risiko terganggunya distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz yang merupakan jalur utama perdagangan minyak dunia.
Akibatnya, harga minyak mentah terdorong naik dan memicu kekhawatiran inflasi global kembali meningkat.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati data inflasi AS yang masih tinggi.
Ibrahim menyebut harga konsumen AS pada April 2026 naik 0,6% secara bulanan, sedangkan inflasi tahunan mencapai 3,8% atau tertinggi sejak pertengahan 2023.
“Inflasi inti juga berada di atas ekspektasi,” ujar Ibrahim, Rabu (13/5/2026).
Kondisi tersebut membuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed kembali menurun.
Imbal hasil aset berbasis dolar AS menjadi lebih menarik sehingga mendorong penguatan indeks dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pasar juga menaruh perhatian pada pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping yang membahas isu perdagangan, Taiwan, hingga konflik Iran.
Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah cenderung beragam.
Survei Konsumen BI pada April 2026 menunjukkan optimisme masyarakat masih terjaga. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat naik tipis menjadi 123,0 dari bulan sebelumnya 122,9.
Namun, pasar masih menyoroti sejumlah risiko domestik, mulai dari pelemahan sektor manufaktur, ketidakpastian kebijakan royalti tambang, hingga kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah di tengah tingginya belanja negara.
Selain itu, komentar Presiden Prabowo Subianto yang menegur Gubernur Perry Warjiyo terkait pelemahan rupiah turut mempengaruhi sentimen pasar.
Pelaku pasar juga mencermati penurunan bobot Indonesia dalam indeks global MSCI yang dikhawatirkan dapat memicu arus keluar modal asing dari pasar domestik.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan posisi utang Indonesia masih dalam batas aman.
Hingga akhir Maret 2026, rasio utang pemerintah tercatat sebesar 40,75% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), masih di bawah batas aman 60% sesuai Undang-Undang Keuangan Negara.
“Sejatinya jumlah utang pemerintah tersebut naik sebesar Rp 282,52 triliun dibandingkan posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp 9.637,90 triliun,” kata Ibrahim.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI juga terus melakukan intervensi di pasar offshore melalui instrumen Non Deliverable Forward (NDF), intervensi pasar spot, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Ia memproyeksikan rupiah pada pekan depan akan bergerak di kisaran Rp 17.420 hingga Rp 17.650 per dolar AS.