Saham TPIA, AMMN, dan DSSA anjlok belasan persen bikin IHSG tumbang

Scoot.co.id JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka melemah cukup dalam pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026). Mayoritas saham big caps kompak ambles, bahkan nama-nama yang telah keluar dari MSCI melemah belasan persen.

Melansir IDX Mobile pukul 09.33 WIB, IHSG ambrol 3,21% atau 215,66 poin ke 6.507,66. IHSG dibuka di level 6.628,98 dan sempat mencapai titik terendah intraday di 6.507,65. Pasar mencatat transaksi 7,65 miliar saham dengan nilai Rp4,80 triliun.

Pagi ini, sebanyak 601 saham dibuka melemah dan 256 saham stagnan. Di sisi lain, hanya 100 saham yang mampu menguat.

Menilik gerak saham big caps, mayoritas kompak tertekan. BBCA melemah 2,46% ke Rp5.950, BBRI turun 2,24% ke Rp3.050, dan BREN melemah 7,81% ke Rp2.950, serta BMRI yang melemah 2,14% ke Rp4.110, serta ada BYAN yang turun 0,67% ke Rp11.125.

: IHSG Dibuka Ambrol 3,14% ke Level 6.512 Hari Ini (18/5)

Sementara itu, saham yang kemarin dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes mengalami koreksi signifikan. TPIA terpangkas 14,88% ke Rp3.660, AMMN melemah 13,78% ke Rp3.190, hingga DSSA yang turun 14,98% ke Rp880.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menjelaskan bahwa dalam pekan ini sentimen rebalancing MSCI akan tetap menjadi penyebab volatilitas pasar. Menurutnya, fokus pasar masih akan tertuju pada implementasi MSCI rebalancing menjelang effective date 29 Mei 2026. 

“Volatilitas diperkirakan tetap tinggi, terutama pada sesi closing auction yang biasanya menjadi titik utama penyesuaian portofolio passive funds global,” ujarnya, Senin (18/5/2026).

Selain itu, pasar juga mulai mengantisipasi potensi upgrade Korea Selatan dari Emerging Market menjadi Developed Market oleh MSCI, yang dalam jangka menengah dapat membuka peluang reallocation flow ke pasar emerging termasuk Indonesia.

Secara teknikal, dia menjelaskan bahwa IHSG saat ini masih berada dalam fase bearish dengan support berikutnya berada di area 6.640 hingga 6.538. Walaupun indikator mulai menunjukkan tanda awal bearish exhaustion, konfirmasi reversal masih belum terbentuk sehingga strategi defensif tetap menjadi pendekatan yang paling relevan dalam jangka pendek. 

Menurutnya, tekanan pasar saat ini lebih mencerminkan faktor teknikal dan mekanisme global rebalancing dibanding deteriorasi fundamental ekonomi domestik secara struktural. Dengan pertumbuhan PDB Indonesia kuartal I-2026 yang tetap solid di level 5,61%, pasar domestik menurutnya masih memiliki fundamental yang cukup resilien.

“Namun, hingga arus dana asing mulai stabil pasca effective date MSCI, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi dan menuntut investor untuk lebih disiplin dalam mengelola risiko dan posisi trading,” tandasnya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *