Tiga poin penting dibahas di KTT ASEAN, termasuk ketahanan pangan dan energi

Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengatakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 di Filipina membahas sejumlah permasalahan. Beberapa topik yang disebutkan adalah terkait situasi Myanmar, konflik Thailand-Kamboja, hingga masalah ketahanan pangan serta energi.

Sugiono menyebut masalah Myanmar dibahas saat sesi retreat KTT ASEAN pada Jumat (8/5). Pemerintah Myanmar saat ini dipimpin berdasarkan hasil pemilu yang sudah terlaksana sebelumnya.

“Dari awal posisi Indonesia, jika pemilu tersebut berlangsung, maka harus inklusif dan mampu menangani masalah serta menciptakan situasi yang lebih baik. Tentu saja ini berpegang pada lima poin konsensus yang harus dilaksanakan di Myanmar,” kata Sugiono saat ditemui di Cebu, Filipina, Sabtu (9/5).

Menurutnya, ada beberapa gestur positif yang diberikan pemerintahan baru usai pemilu berlangsung, seperti pembebasan 6000 lebih tahanan politik serta perubahan status tahanan dari Aung San Suu Kyi. 

Baca juga:

  • Thailand-Kamboja Rekonsiliasi di KTT ASEAN, Prabowo Dorong Solusi Batas Negara
  • Prabowo Hadiri Acara Puncak KTT ASEAN ke 48 di Filipina, Bahas Ketahanan Energi
  • Prabowo Tiba di Filipina Hadiri KTT ASEAN, Perdana Pakai Maung di Luar Negeri

Sugiono menyebut hal ini merupakan perkembangan yang bagus dalam rangka pemenuhan lima konsensus yang menjadi kewajiban Myanmar. Oleh sebab itu, dalam KTT ini negara-negara ASEAN membahas apa saja langkah yang perlu dilakukan untuk menyikapi progres yang terjadi di Myanmar.

“Pada intinya semua berpendapat sepaham, sebagai satu keluarga dalam sebuah kawasan ASEAN, negara-negara anggota harus terus memberikan perhatiannya kepada Myanmar untuk bisa menemukan jalan yang mereka tentukan sendiri, dalam rangka memperbaiki situasi di negaranya,” ujarnya.

Ketahanan Energi dan Pangan

Hal kedua yang dibahas dalam KTT berkaitan dengan kondisi geopolitik Timur Tengah. Negara anggota ASEAN mengungkapkan respon dalam menyikapi situasi tersebut, sebab perang ini memberikan efek langsung terhadap kehidupan di kawasan ini khususnya di sektor ekonomi seperti ketersediaan pangan dan energi.

“Ada satu kesadaran bersama yang tumbuh dengan situasi ini perlu suatu inisiatif bersama untuk menjadikan ASEAN sebuah wilayah yang resilien, khususnya di bidang energi dan pangan,” ujarnya.

Menurutnya, ketahanan pangan dan energi merupakan dua hal yang harus bisa dipenuhi di Indonesia. Dia menyebut kondisi konflik ini menyadarkan negara di ASEAN bahwa meski perang ini berlangsung di kawasan yang jauh dari Asia Tenggara, namun cepat atau lambat akan langsung berimbas pada seluruh kehidupan masyarakat.

Tak hanya itu, dalam gelaran rutin ini juga terjadi beberapa kesepakatan, seperti ASEAN Petroleum Security Agreement, kemudian juga APTERR (ASEAN Plus Three Emergency Rice Security) yang menjadi deliverables dari pertemuan KTT kemarin.

Thailand dan Kamboja

Sugiono juga mengatakan dalam KTT ASEAN kemarin Presiden Prabowo mengawali pembahasan terkait masalah batas negara yang kini tengah memanas antara Thailand dan Kamboja. Pada 2025, sengketa wilayah antara Thailand dan Kamboja meningkat dan memicu dua bentrokan bersenjata di perbatasan dalam setahun. 

Bentrok tersebut melibatkan penggunaan senjata berat, artileri, roket, dan pesawat militer sebelum kedua negara menandatangani perjanjian gencatan senjata pada 27 Desember 2025.

Menurut Prabowo hampir seluruh negara di kawasan Asia tenggara memiliki masalah batas negara, seperti halnya Thailand dan Kamboja. Sugiono mengatakan untuk mengatasi masalah tersebut seluruh pihak harus mencari titik temu.

“Itu yang disampaikan Presiden Prabowo, daripada kita mempertajam perbedaan, biar urusan legal itu tetap berjalan tapi disaat yang bersamaan juga menjadi jalan positif untuk bekerja sama,” kata Sugiono 

Bagi Prabowo hal terpenting yang seharusnya dilakukan adalah memberi manfaat bagi masyarakat dari masing-masing negara.

“Seperti juga yang kita lakukan, mencari jalan dan solusi bersama terkait dengan permasalahan di perbatasan melalui dialog, dengan negosiasi, dengan bekerja sama,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *