Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun saat ini tercatat sekitar 6,11%, menunjukkan kenaikan 4 basis poin dalam sebulan terakhir. Kenaikan yield SBN ini merupakan indikasi kuat adanya tekanan yang semakin meningkat di pasar obligasi, baik yang bersumber dari dinamika ekonomi domestik maupun sentimen global yang bergejolak.
Menanggapi kondisi tersebut, Domingus Sinarta Ginting, Head of Investment Specialist Sinarmas Asset Management, menjelaskan bahwa pasar sedang berada dalam fase yang sangat sensitif. Menurutnya, pasar keuangan tengah menghadapi tekanan signifikan, yang salah satunya dipicu oleh aksi realisasi keuntungan yang dilakukan oleh investor domestik, serta diperparah oleh berlanjutnya arus keluar dana asing dari pasar.
Lebih lanjut, Domingus menekankan bahwa ketidakjelasan arah kebijakan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), menjadi sumber kecemasan utama bagi para pelaku pasar. Ketidakpastian mengenai kebijakan The Fed ini mendorong investor global untuk melakukan penyesuaian strategi dan profil risiko investasi mereka, yang kemudian berdampak pada pergerakan pasar di berbagai negara.
Selain faktor global, Domingus juga menyoroti kenaikan inflasi di dalam negeri yang turut menambah volatilitas. Situasi ini secara signifikan memperlemah sentimen investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN), mengingat potensi penurunan nilai riil investasi akibat inflasi yang lebih tinggi.
Dalam pandangan Domingus, yield SBN yang tersedia saat ini dinilai belum mampu memberikan kompensasi risiko yang memadai bagi investor. Khususnya untuk obligasi dengan tenor menengah dan panjang, level imbal hasil yang ditawarkan dianggap kurang atraktif, tidak sebanding dengan risiko yang melekat.
Sementara itu, Kepala Ekonom BCA David Sumual mengamini bahwa kenaikan yield SBN selama ini memang dipicu oleh derasnya arus keluar dana asing. David mengungkapkan bahwa sejak September, dana asing yang keluar dari pasar obligasi telah mencapai sekitar US$4,3 miliar. Volume outflow yang besar ini secara langsung memberikan tekanan pada harga SBN dan pada akhirnya mendorong imbal hasilnya bergerak naik.
David menilai bahwa arus keluar dana asing tersebut belum tentu akan berhenti dalam waktu dekat. Ia menggarisbawahi probabilitas pemotongan suku bunga The Fed pada Desember yang telah menurun menjadi sekitar 52%. Jika The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunganya, maka selisih (spread) antara imbal hasil SBN dengan US Treasury (UST) dapat melebar, yang berpotensi memicu kelanjutan tekanan outflow.
Menurut David, pergerakan SBN hingga akhir tahun akan sangat ditentukan oleh beberapa faktor kunci. Ini termasuk arah kebijakan suku bunga The Fed dan Bank Indonesia (BI), dinamika inflow–outflow asing yang terkait dengan spread antara US Treasury dan SBN, serta kebijakan fiskal pemerintah. David menambahkan, kebijakan fiskal yang tetap prudent dan terukur akan sangat mempengaruhi sentimen investor asing terhadap obligasi Indonesia.
Melihat kondisi pasar yang fluktuatif, Domingus merekomendasikan agar investor mengambil posisi yang lebih defensif. Ia secara spesifik menyarankan untuk mengurangi eksposur pada obligasi berdurasi panjang, mengingat sensitivitas instrumen ini yang tinggi terhadap perubahan suku bunga dan potensi peningkatan volatilitas pasar.
Sebaliknya, Domingus mengarahkan investor untuk lebih fokus pada instrumen obligasi jangka pendek. Instrumen-instrumen ini, menurutnya, menawarkan fleksibilitas yang lebih baik serta memiliki profil risiko yang lebih terkelola, menjadikannya pilihan yang lebih aman di tengah ketidakpastian pasar.
Dalam jangka pendek, Domingus memperkirakan peluang kenaikan yield SBN masih terbatas. Ia memproyeksikan bahwa yield obligasi 10 tahun berpotensi naik sekitar 25 hingga 50 basis poin, yang merupakan cerminan penyesuaian pasar terhadap berbagai risiko makroekonomi yang ada.
Namun, dalam pandangan jangka panjang, David Sumual melihat peluang penurunan yield SBN tetap terbuka. Penurunan ini berpeluang terjadi seiring dengan ekspektasi pemotongan suku bunga di masa mendatang. Akan tetapi, David mengingatkan bahwa jika penerimaan negara melemah dan penerbitan obligasi meningkat, potensi penurunan yield ini bisa saja tertahan dan tidak terjadi sesuai harapan.
Ringkasan
Kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN), khususnya tenor 10 tahun yang mencapai 6,11%, mengindikasikan tekanan di pasar obligasi akibat sentimen global dan dinamika ekonomi domestik. Arus keluar dana asing, dipicu ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed dan inflasi dalam negeri, memperburuk sentimen investor terhadap SBN.
Para ahli merekomendasikan strategi investasi yang lebih defensif, mengurangi eksposur pada obligasi berdurasi panjang dan fokus pada obligasi jangka pendek. Pergerakan yield SBN ke depan akan dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga The Fed dan Bank Indonesia, arus dana asing, serta kebijakan fiskal pemerintah yang prudent.