
Scoot.co.id JAKARTA. PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencatat pertumbuhan pendapatan pada kuartal I-2026 di tengah tekanan kenaikan beban keuangan.
Emiten properti tersebut masih ditopang pertumbuhan marketing sales dan pendapatan berulang (recurring income), meski laba bersih mengalami penurunan.
SMRA membukukan pendapatan sebesar Rp 2,23 triliun pada kuartal I-2026 atau naik 6,14% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 2,10 triliun.
Harga Bitcoin Turun 4,75% Sepekan, Tekanan ETF dan Yield Membayangi
Pertumbuhan tersebut terutama didorong segmen penjualan properti dan pendapatan berulang yang masih tumbuh stabil.
Di sisi lain, laba bersih SMRA turun 20,34% YoY menjadi Rp 189,76 miliar. Tekanan terhadap laba terutama berasal dari kenaikan beban keuangan seiring meningkatnya utang perusahaan.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie menilai, penurunan laba bersih SMRA lebih mencerminkan tekanan pada aspek non-operasional dibandingkan pelemahan fundamental bisnis perseroan.
Menurut dia, laba usaha SMRA masih tumbuh positif sebesar 7,7% menjadi Rp 677,46 miliar pada kuartal I-2026. Hal tersebut menunjukkan bisnis inti perusahaan masih berada dalam kondisi sehat.
“Tekanan utama terhadap laba bersih berasal dari kenaikan beban keuangan yang meningkat sekitar 16,2%,” ujar Adrian kepada Kontan.co.id, Selasa (19/5/2026).
Market Cap Saham Konglomerasi Ambruk, BBCA Kembali Memimpin
Adrian memperkirakan kinerja SMRA pada kuartal II-2026 masih akan solid. Optimisme tersebut ditopang pertumbuhan marketing sales sebesar 36,7% YoY menjadi Rp 1,2 triliun pada kuartal I-2026.
Realisasi tersebut setara 23% dari target marketing sales tahunan perusahaan sebesar Rp 5,2 triliun.
Selain itu, recurring income SMRA juga dinilai masih resilien. Kinerja tersebut terutama ditopang pusat perbelanjaan Summarecon Mall Kelapa Gading yang memiliki tingkat okupansi solid sekitar 85% per Maret 2026.
Meski demikian, Adrian mengingatkan terdapat sejumlah tantangan yang perlu dicermati ke depan.
Harga Bitcoin Gagal Bertahan di US$ 80.000, Ini Penyebabnya
SMRA Chart by TradingView
Salah satunya kenaikan beban keuangan akibat bertambahnya utang perusahaan yang berpotensi menekan margin laba.
Selain itu, daya beli masyarakat kelas menengah yang belum pulih sepenuhnya juga dapat memengaruhi penyerapan produk properti, khususnya di segmen residensial.
Ia menambahkan, pelaku pasar juga perlu mencermati sejumlah sentimen eksternal dan domestik, mulai dari dinamika makroekonomi global, eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, hingga arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang akan menjadi katalis penting bagi sektor properti.
Dari sisi valuasi, Adrian menilai saham SMRA masih cukup menarik secara fundamental karena saat ini diperdagangkan di bawah rata-rata price to book value (PBV) lima tahun terakhir.
Menakar Efek Pelemahan Rupiah Terhadap Kinerja Grup Indofood (ICBP) dan (INDF)
Sementara secara teknikal, Adrian memperkirakan target harga terdekat saham SMRA berada di level Rp 330 per saham.
Sementara itu, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana merekomendasikan wait and see untuk SMRA dengan level support di Rp 302 dan resistance Rp 322 per saham.