
Scoot.co.id JAKARTA. Di tengah transformasi ke bisnis hijau, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mencatatkan pertumbuhan top line. Penopangnya, lonjakan bisnis limbah dan perbaikan arus kas operasional pada kuartal I-2026.
Melansir laporan keuangan per 31 Maret 2026, TOBA membukukan pendapatan sebesar US$ 86,28 juta. Melonjak 20,5% secara tahunan atau year on year (YoY) dari US$ 71,51 juta per 31 Maret 2025.
Total kerugian periode berjalan menyusut 83% secara tahunan menjadi US$ 9,5 juta di kuartal I-2025. Pada periode yang sama di 2024, rugi TOBA mencapai US$ 58,9 juta.
Direktur TBS Energi Utama Juli Oktarina menjelaskan langkah besar akuisisi dan divestasi di 2025 merupakan bentuk penataan ulang portofolio strategis yang terencana dan krusial bagi arah bisnis TOBA ke depan.
“Fase transisi ini akan berdampak sementara pada laba kami, tapi transisi ini diperlukan sebagai fondasi agar TOBA menjadi platform bisnis berkelanjutan dengan margin tinggi, yang siap memberikan nilai tambah jangka,” jelasnya, pekan lalu,
Segmen kendaraan listrik melalui Electrum juga menunjukkan tren kenaikan yang kuat. Pendapatan dari penjualan dan penyewaan tumbuh sebesar 137,82% dari US$ 1,3 juta menjadi US$ 3,2 juta di kuartal I-2026.
Kinerja Emiten Properti Beda Arah di Kuartal I-2026, Simak Rekomendasi Sahamnya
“Dengan posisi kas sebesar US$ 103,3 juta dan modal kerja yang disiplin, kami memiliki kapasitas likuiditas yang cukup untuk mendukung rencana pertumbuhan dan target netralitas karbon pada 2030,” katanya.
Analis menila,i emiten sektor hijau yang tengah menjalani transformasi ini mulai memperlihatkan progres awal menuju struktur usaha yang lebih terdiversifikasi.
Perkembangan ini dinilai mencerminkan dinamika fase transisi. Dengan perubahan komposisi bisnis mulai memberikan dampak terhadap kinerja keuangan secara bertahap.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audre menilai, TOBA berhasil membuktikana transformasi bisnis tidak mengorbankan performa finansial dan operasional
Pergeseran dari bisnis berbasis batu bara menuju portofolio yang lebih berorientasi keberlanjutan dinilai sebagai proses struktural yang membutuhkan waktu.
Fase ini wajar diiringi oleh fluktuasi kinerja, terutama karena perusahaan membutuhkan waktu untuk optimisasi dan integrasi aset baru .”Oleh karena itu, kerugian kebanyakan adalah non-tunai, muncul saat ini lebih bersifat sementara dan tidak mencerminkan penurunan kualitas fundamental. Yang penting pendapatan terus bertumbuh dan efisiensi arus kas,” ungkap Audrey, Selasa (5/5).
Menurutnya, arah transformasi mulai menunjukkan hasil. Khususnya melalui peningkatan kontribusi bisnis berkelanjutan dalam struktur pendapatan.
Secara keseluruhan analis Andhika Audrey melihat perkembangan pada kuartal pertama ini mengindikasikan bahwa kontribusi bisnis berkelanjutan semakin menguat, baik dari sisi pendapatan maupun skala operasional.
Dengan arah transformasi yang terus berjalan, kinerja ke depan diperkirakan akan semakin ditopang oleh portofolio usaha yang lebih beragam dan berorientasi jangka panjang.