
Scoot.co.id , JAKARTA — Bank Indonesia (BI) melaporkan pertumbuhan kredit Maret 2026 sebesar 9,49% (yoy) atau lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Namun, tingkat undisbursed loan atau kredit menganggur masih tinggi di level Rp2.527,46 triliun.
Hal ini disampaikan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo pada konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) 21-22 April 2026, Rabu (22/4/2026).
Perry mengatakan bahwa pertumbuhan kredit pada Maret 2026 melesat lebih tinggi dari Februari 2026 sebesar 9,37% (yoy).
: Lakukan Stress Test, BI Nilai Perbankan Kuat Hadapi Dampak Perang Timur Tengah
“Berdasarkan kelompok penggunaan, perkembangan didukung kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi 2026 masing-masing tumbuh sebesar 20,85%, 4,38%, dan 5,88%,” terang Perry secara virtual.
Pada tahun ini, Perry memprakirkan pertumbuhan kredit tetap terjaga di kisaran 8% sampai dengan 12%. Prakiraan ini dipengaruhi oleh baik sisi permintaan dan penawaran.
: : BI Catat Arus Masuk Asing di SRBI Makin Deras Bertambah Tambah Rp29 Triliun pada April 2026
Namun demikian, dia turut melaporkan bahwa undisbursed loan atau fasilitas pinjaman yang belum digunakan masih besar. Nilainya mencapai Rp2.527,46 triliun atau 22,59% dari total plafon kredit yang tersedia.
Apabila dibandingkan dengan data Februari 2026, undisbursed loan saat itu tercatat sebesar Rp2.536,4 triliun atau 22,86% dari total plafon kredit. Dengan demikian, terjadi penurunan tipis dari Februari ke Maret.
: : Sederet Kebijakan BI Usai Tahan Suku Bunga Acuan di 4,75% dalam RDG April 2026
“Dari sisi permintaan, pemanfaatan pembiayaan perbankan masih dapat ditingkatkan terutama dengan mengoptimalkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan atau disebut undisbursed loan yang masih cukup besar,” tutur Perry.
Adapun dari sisi penawaran, bank sentral melihat kapasitas pembiayaan bank tetap memadai berdasarkan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (DPK) sebesar 27,85%. DPK juga masih tumbuh tinggi sebesar 13,55 pada Maret 2026.
Penyaluran kredit juga dinilai tetap baik apabila tercermin dari persyaratan pemberian kredit atau lending requirement yang masih longgar. Namun, ini tidak terjadi pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat masih tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut.
“Bank Indonesia akan terus memperkuat pendanaan perbankan termasuk pengembangan instrumen nontraditional funding (non-DPK) guna mendukung penyaluran kredit perbankan,” terang Gubernur BI dua periode itu.
Menurut Perry, ketahanan perbankan ke depan tetap kuat untuk memitigasi risiko dampak dari perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Asesmen itu berdasarkan likuiditas perbankan yang memadai, seperti kapasitas permodalan yang terjaga pada level tinggi serta risiko kredit yang tetap rendah.
Beberapa indikatornya adalah rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) yang tercatat tinggi sebesar 25,53%. Perry menyebut CAR perbankan saat ini tergolong kuat dalam menyerap risiko dan mendukung pertumbuhan kredit.
Dari sisi kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL), rasionya juga dinilai masih tetap rendah yaitu 2,17% secara bruto dan 0,83% secara neto pada Februari 2026.