Rupiah dinilai undervalue, BI habis-habisan intervensi hingga kerek yield SRBI

Scoot.co.id , JAKARTA — Bank Indonesia (BI) habis-habisan menggunakan bauran kebijakan moneternya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang dianggap di bawah nilai fundamentalnya atau undervalued. Otoritas moneter melakukan sederet intervensi hingga memanfaatkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna memastikan kembali masuknya aliran modal asing. 

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa pihaknya memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah seiring dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Intensitas intervensi bank sentral ditingkatkan di pasar non-delivery forward (NDF), spot maupun domestic NDF atau DNDF.

Di sisi lain, BI turut menaikkan suku bunga instrumen moneter, yakni SRBI, guna menarik aliran masuk investasi portofolio asing. Di tengah berbagai upaya itu, Perry tetap menegaskan bahwa nilai tukar rupiah saat ini di bawah nilai fundamentalnya, alias undervalued. 

: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.181 per Dolar AS usai BI Rate Ditahan

“Kami tegaskan bahwa nilai tukar rupiah sekarang ini telah undervalued dibandingkan dengan fundamental,” jelasnya pada konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI April 2026, Rabu (22/4/2026). 

Kendati demikian, Perry memprakirakan nilai tukar rupiah ke depannya akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh fundamental ekonomi. Apalagi, pihaknya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini masih tumbuh di kisaran 4,9% sampai dengan 5,7% di tengah perlambatan ekonomi global. 

: : Tarik Ulur Dana Asing di Pasar RI Kala Suku Bunga Ditahan

Perry menyebut sinyal perbaikan kurs rupiah sudah mulai terlihat. Menurutnya, berkat upaya stabilisasi BI, nilai tukar relatif stabil di Rp17.140 per dolar AS meskipun depresiasinya sudah sebesar 0,87% per April 2021 dibandingkan dengan akhir Maret 2026. 

Mengenai upaya stabilisasi, upaya intervensi di pasar bukan satu-satunya upaya yang dilakukan oleh otoritas moneter. Sejak April 2026, BI telah memperketat persyaratan transaksi valuta asing (valas) melalui, di antaranya, penyesuaian ambang batas (threshold) tunai beli valas terhadap rupiah. 

: : Sederet Kebijakan BI Usai Tahan Suku Bunga Acuan di 4,75% dalam RDG April 2026

Selain itu, BI turut meningkatkan threshold jual DNDF atau forward serta beli dan jual swap. 

Di sisi lain, guna menarik kembali aliran modal asing, BI juga menaikkan suku bunga SRBI sebagai instrumen moneter promarket. Dengan itu, posisi instrumen moneter per 21 April 2026 tercatat mencapai Rp885,41 triliun. 

Porsi kepemilikan investor asing di SRBI mencapai Rp165,98 triliun atau 18,75% dari total outstanding. Perry menyebut langkah ini mendukung upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Apabila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, posisi instrumen SRBI memang naik dari posisi per 13 Maret 2026 yaitu Rp831,55 triliun. 

Dengan kenaikan posisi SRBI, aliran modal asing masuk kembali ke pasar keuangan Indonesia. Perry mencatat data hingga 20 April 2026 menunjukkan bahwa net inflow modal portofolio asing kembali masuk US$1,9 miliar. Masuknya investor asing ke SRBI turut memicu kembalinya kepemilikan nonresiden ke pasar SBN pemerintah juga. 

“Aliran modal kembali mencatat net inflow US$1,9 miliar terutama ditopang oleh aliran masuk modal asing ke SRBI dan SBN didorong oleh peningkatan imbal hasil di kedua instrumen tersebut,” jelasnya.

Kendati demikian, BI menyatakan tetap memastikan kecukupan likuiditas di pasar keuangan. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan pembelian SBN pemerintah yang jumlahnya mencapai Rp111,54 triliun per 21 April 2026. 

“Termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp56,53 triliun. Pembelian SBN di pasar sekunder dilakukan sesuai mekanisme pasar yang terukur dan transparan,” tuturnya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *