
Scoot.co.id – , JAKARTA — Bank Indonesia (BI) akan kembali melakukan pembatasan pembelian dolar AS menjadi 25 ribu dolar AS per pelaku per bulan yang akan diberlakukan mulai Juni 2026. Bank sentral optimistis langkah tersebut dapat berdampak pada penguatan rupiah yang saat ini masih mengalami tren pelemahan di kisaran Rp 17.600-Rp 17.700 per dolar AS.
BI memberlakukan pembatasan pembelian valuta asing tanpa underlying secara bertahap. Sebelumnya, pembelian diturunkan dari 100 ribu dolar AS per pelaku per bulan menjadi 50 ribu dolar AS per pelaku per bulan pada April 2026.
Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Ruth A Cussoy Intama mengungkapkan kebijakan tersebut diyakini dapat memberikan stimulus penguatan terhadap rupiah. Optimisme itu berdasarkan pengalaman sebelumnya saat BI melakukan pembatasan pembelian dolar pada 2015.
“Penyesuaian threshold ini bukan kebijakan yang baru, ini sudah pernah kita lakukan di tahun 2015,” kata Ruth dalam acara Pelatihan Wartawan BI bertajuk Penguatan Kebijakan Valas dan Intermediasi untuk Stabilitas Rupiah dan Pertumbuhan Kredit di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (22/5/2026).
Ia menjelaskan penyesuaian threshold transaksi valas merupakan kebijakan yang lazim dan bersifat dinamis, menyesuaikan perkembangan kondisi ekonomi serta pasar keuangan global maupun domestik. Data BI menunjukkan terjadinya penguatan rupiah ketika kebijakan tersebut diberlakukan.
Berdasarkan data historis kebijakan threshold transaksi valas BI, batas transaksi pembelian tunai valas terhadap rupiah sempat diturunkan dari 100 ribu dolar AS per pelaku per bulan menjadi 25 ribu dolar AS per pelaku per bulan, sebelum kembali dinaikkan menjadi 100 ribu dolar AS per pelaku per bulan pada 2022.
Tercatat pada Agustus 2015, rupiah berada di posisi Rp 14.065 per dolar AS. Rupiah kemudian menguat menuju level Rp 13.166 per dolar AS pada Juni 2016. Dengan berkaca dari pengalaman tersebut, diharapkan rupiah yang saat ini sudah menembus level Rp 17.700-an per dolar AS dapat mengalami penguatan melalui instrumen tersebut dan sejumlah instrumen lainnya.
“Mudah-mudahan ini bisa menjadi salah satu tools yang membantu penguatan rupiah,” ujarnya.
Ruth menuturkan pemberlakuan pembatasan pembelian dolar dari 100 ribu dolar AS menjadi 50 ribu dolar AS per April 2026 sudah menunjukkan efektivitas. Hal itu terlihat dari berkurangnya rata-rata harian (RRH) transaksi pasar valas. Tercatat, RRH transaksi pasar valas turun dari sekitar 78 juta dolar AS per hari pada kuartal I 2026 menjadi 62 juta dolar AS pada April-Mei 2026.
“Jadi kita coba turunkan lagi ke 25 ribu dolar AS per pelaku per bulan dengan harapan trennya akan sama, akan mengurangi kebutuhan pembelian dolar tanpa underlying. Saat ini rata-rata hariannya sekitar 57 juta dolar AS, kita harap ini akan menurun lagi,” terangnya.
Langkah Strategis BI
Sebelumnya diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami pelemahan hingga menembus level terendah sepanjang sejarah, yakni Rp 17.700-an per dolar AS. BI melakukan berbagai upaya untuk menstabilkan rupiah. BI juga menganggap rupiah saat ini undervalue, sehingga memiliki ruang yang luas untuk menguat.
Gubernur BI Perry Warjiyo pada Selasa (5/5/2026) mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan untuk melakukan tujuh langkah strategis guna menstabilkan nilai tukar rupiah.
Salah satunya adalah pembatasan pembelian dolar di pasar domestik tanpa underlying, dari 100 ribu dolar AS per orang per bulan menjadi 50 ribu dolar AS per orang per bulan. Kebijakan tersebut telah dilakukan sejak April 2026. Perry menyebut nominalnya akan kembali diturunkan.
“Kami persiapkan akan turunkan lagi menjadi 25.000 dolar AS per orang per bulan, sehingga pembelian dolar di atas 25.000 dolar AS harus pakai underlying,” tuturnya pada Selasa (5/5/2026).
Sejalan dengan itu, BI memperkuat local currency transaction (LCT) antara yuan China dan rupiah Indonesia. Kerja sama itu merupakan upaya alternatif untuk mengurangi kebutuhan terhadap dolar AS.
“Local currency kita dengan yuan China sangat tinggi, dan sekarang sudah mulai terbentuk pasar domestik, sehingga mengurangi atau melakukan diversifikasi dari dolar, sehingga rupiah bisa menguat,” ujarnya.
Beberapa langkah strategis lainnya yakni BI akan terus melakukan intervensi, baik di pasar domestik melalui pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), maupun di pasar offshore melalui non-deliverable forward (NDF). Intervensi di antaranya akan dilakukan di Hong Kong, Singapura, London, dan New York.
Sejalan dengan upaya intervensi di pasar offshore melalui NDF, dan agar lebih mampu mengendalikan perkembangan nilai tukar di luar negeri, BI membolehkan perbankan domestik turut menjual NDF di pasar offshore.
“Kami membolehkan bank-bank domestik untuk ikut jualan NDF di luar negeri, sehingga pasokannya lebih banyak. Itu akan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah,” kata Perry.
Kemudian, BI menggunakan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik dana asing masuk (capital inflow) sebagai upaya menyiasati modal keluar (capital outflow) dari Surat Berharga Negara (SBN) dan saham.
BI juga akan terus membeli SBN dari pasar sekunder. Langkah tersebut telah dilakukan sejak awal tahun sebagai hasil koordinasi otoritas fiskal dan moneter. Menurut Perry, secara year to date (ytd) hingga akhir April atau awal Mei, BI telah membeli SBN dari pasar sekunder sebanyak Rp 123,1 triliun.
BI bersama Kementerian Keuangan juga akan terus menjaga likuiditas di perbankan dan pasar agar tetap lebih dari cukup, yang tercermin dari pertumbuhan uang primer yang selalu double digit.
Terakhir, BI meningkatkan pengawasan terhadap perbankan dan korporasi yang aktivitas pembelian dolarnya tinggi. Perry menyebut BI mengirim pengawas dan melakukan koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.
Perry menyampaikan tekanan terhadap rupiah diprediksi hanya berlangsung dalam jangka pendek. Menurut dia, pelemahan rupiah dipengaruhi dua faktor, yakni global dan musiman.
Faktor global meliputi tingginya harga minyak dan suku bunga AS, serta penguatan dolar AS yang menyebabkan arus keluar modal (capital outflow) dari emerging market, termasuk Indonesia.
Sementara faktor musiman antara lain tingginya permintaan dolar AS untuk pembayaran repatriasi dividen, pembayaran utang, serta kebutuhan jamaah haji.
Kendati demikian, Perry mengatakan nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue, yakni berada di bawah nilai fundamentalnya sehingga masih memiliki peluang untuk menguat.
“Nilai tukar sekarang ini undervalue. Kenapa undervalue? Fundamental kita kuat, pertumbuhan ekonomi sangat tinggi 5,61 persen pada kuartal I 2026, inflasi rendah, kredit juga tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat. Inilah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat ke depan,” terang Perry.