
Scoot.co.id JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dinilai berpotensi menekan kinerja emiten farmasi, baik dari sisi biaya pendanaan maupun prospek pertumbuhan penjualan.
Seperti diketahui, Bank Indonesia menaikkan BI rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Mei 2026 sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, mengatakan kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan biaya pendanaan emiten farmasi, terutama bagi perusahaan dengan tingkat leverage tinggi.
“Kondisi ini dapat membuat emiten lebih selektif dalam belanja modal dan ekspansi bisnis ke depan,” kata Azis kepada Kontan, Kamis (21/5/2026).
Harga Turun 38%, Lo Kheng Hong Borong 793,64 juta saham Grup Salim Ini
Menurutnya, tekanan terhadap industri farmasi tidak hanya berasal dari sisi pendanaan, tetapi juga potensi perlambatan konsumsi masyarakat. Kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan beban bunga perusahaan, sementara daya beli masyarakat yang melemah dapat menekan permintaan produk kesehatan, terutama pada segmen consumer health.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menjadi tantangan bagi industri farmasi nasional. Pasalnya, sebagian besar bahan baku aktif atau active pharmaceutical ingredients (API) masih bergantung pada impor.
“Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, sehingga berpotensi menekan margin emiten farmasi,” tambahnya.
Dari sisi pendapatan, prospek pertumbuhan penjualan emiten farmasi diperkirakan akan lebih moderat, khususnya pada segmen non-JKN dan produk consumer health yang sangat dipengaruhi kondisi konsumsi rumah tangga.
Menerka Arah IHSG Usai Pidato Prabowo dan Kenaikan Suku Bunga Acuan
Meski demikian, Azis menilai industri farmasi masih memiliki karakter defensif, terutama pada produk-produk kesehatan dasar dan obat-obatan esensial yang permintaannya cenderung stabil meski kondisi ekonomi bergejolak.
“Kebutuhan terhadap produk kesehatan dasar cenderung tidak banyak terpengaruh siklus ekonomi,” jelasnya.
Lebih lanjut, kebijakan suku bunga tinggi juga dinilai dapat membatasi ruang fiskal pemerintah, termasuk dalam belanja sektor kesehatan.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi permintaan produk farmasi yang berasal dari pengadaan pemerintah, terutama bagi emiten farmasi pelat merah yang memiliki eksposur besar terhadap proyek dan program kesehatan pemerintah.