
Scoot.co.id JAKARTA. Kinerja emiten farmasi pada kuartal I-2026 menunjukkan hasil yang beragam, seiring berlanjutnya proses normalisasi pasca pandemi serta tekanan dari sejumlah faktor eksternal, terutama nilai tukar dan biaya bahan baku.
Sejumlah perusahaan farmasi besar mencatatkan dinamika kinerja yang berbeda. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), misalnya, membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 10,12% menjadi Rp9,67 triliun. Namun, di tengah peningkatan pendapatan tersebut, laba bersih KLBF justru mengalami penurunan 4,4% menjadi Rp1,02 triliun.
Di sisi lain, PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) berhasil mencatatkan perbaikan kinerja dengan membalikkan posisi rugi menjadi laba bersih sebesar Rp123,6 miliar pada periode yang sama.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai variasi kinerja ini mencerminkan perbedaan model bisnis masing-masing emiten, serta dampak lanjutan dari normalisasi industri setelah pandemi Covid-19.
Transaksi Kripto Domestik Turun di Maret 2026, Sentimen Global Picu Aksi Wait and See
“Kinerja sektor farmasi Kuartal I-2026 yang bervariasi mencerminkan normalisasi pasca-pandemi. Penjualan masih tumbuh, namun laba tertekan oleh kenaikan biaya bahan baku impor dan pelemahan rupiah,” jelas Azis kepada Kontan, Rabu (6/5/2026).
Menurut Azis, tekanan margin menjadi faktor utama yang menekan profitabilitas, khususnya pada KLBF, meskipun perusahaan tersebut masih mampu menjaga pertumbuhan pendapatan.
“Pada KLBF, tekanan margin disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku serta peningkatan biaya operasional penjualan,” jelasnya.
Sementara itu, perbaikan kinerja KAEF dinilai sebagai sinyal positif, meski perusahaan masih menghadapi sejumlah tantangan struktural, terutama terkait beban utang.
“Perbaikan KAEF didorong restrukturisasi utang dan efisiensi operasional. Namun keberlanjutannya bergantung pada disiplin eksekusi dan pengelolaan leverage yang masih relatif tinggi,” tambahnya.
Rupiah Menguat Tipis, Sentimen Global dan Pertumbuhan Ekonomi RI Jadi Katalis
Memasuki kuartal II-2026, kinerja sektor farmasi diperkirakan akan lebih stabil dengan peluang perbaikan margin. Hal ini seiring strategi perusahaan yang mulai mengarah pada pengembangan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
“Kuartal II-2026 diproyeksikan lebih stabil dengan potensi perbaikan margin, didukung fokus ke produk bernilai tambah lebih tinggi,” katanya.
Meski demikian, risiko utama yang perlu dicermati pelaku pasar tetap berasal dari fluktuasi nilai tukar rupiah serta tren kenaikan biaya bahan baku impor yang masih berlanjut.
Dari sisi rekomendasi, Azis memberikan rating trading buy untuk saham KLBF dengan target harga Rp915 per saham. Ia menilai valuasi saham tersebut saat ini sudah berada di bawah standar deviasi historisnya, sehingga menawarkan peluang menarik bagi investor jangka pendek.