Rupiah ambrol, BI-OJK awasi pembelian dolar AS oleh bank dan korporasi

Scoot.co.id JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah ambrol. Bank Indonesia (BI) serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun akan mengawasi bank-bank serta korporasi yang rajin membeli dolar AS.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan seiring dengan pelemahan rupiah, BI pun memiliki sejumlah strategi dalam membalikkan keadaan. Di antara strategi itu adalah pengawasan yang ketat atas pembelian dolar AS oleh bank dan korporasi dalam negeri.

“Peningkatan pengawasan kepada bank-bank dan korporasi. Yang terutama kami lihat bank-bank korporasi yang aktivitas pembelian dolarnya tinggi, kami kirim pengawas ke sana koordinasi dengan Bu Frederica Widyasari dari Ketua OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga,” kata Perry usai gelaran pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada Selasa (5/5/2026).

: Airlangga Ungkap Strategi Pemerintah Jaga Rupiah

Kemudian, BI pun akan melakukan pengetatan atas pembelian dolar AS secara individu di pasar domestik. Pembatasan pembelian dolar AS telah diturunkan dari US$100.000 menjadi US$50.000.

“Kami akan turunkan lagi menjadi US$25.000. Sehingga pembelian dolar di atas US$25.000 itu harus pakai underlying. Itu yang kami akan perkuat di dalam negeri,” katanya.

: : Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Rabu 6 Mei 2026

Perry sendiri mengatakan bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya (undervalue) dan diyakini akan kembali stabil serta menguat ke depan. 

Menurutnya, kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang kuat menjadi dasar keyakinan tersebut. Dia menyebut pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang terkendali, pertumbuhan kredit, serta cadangan devisa yang solid menjadi faktor penopang utama. 

: : Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.372 per Dolar AS Hari Ini (6/5)

“Bahwa yang pertama nilai tukar sekarang itu undervalue. Undervalue dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat. Kenapa undervalue? Tadi disampaikan oleh Pak Menko Perekonomian, fundamental kita itu kuat,” ucapnya. 

Kendati demikian, tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek masih terjadi akibat faktor eksternal dan musiman. 

Dari sisi global, kenaikan harga minyak, suku bunga Amerika Serikat, serta penguatan dolar menjadi pemicu utama. Selain itu, arus modal keluar dari negara berkembang turut memberi tekanan.

“Nah, kenapa dalam jangka pendek ini ada tekanan-tekanan nilai tukar? Sebabnya ada dua yaitu ada faktor global dan kemudian pada faktor-faktor musiman,” imbuhnya. 

Perry juga menjelaskan bahwa secara musiman, permintaan dolar meningkat pada periode April hingga Juni, seiring kebutuhan pembayaran dividen, utang luar negeri, serta aktivitas terkait ibadah haji. 

Adapun, mengacu data RTI Infokom, pada perdagangan kemarin, Selasa (5/5/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terkoreksi 0,14% ke level Rp17.409 per dolar AS. Rupiah sendiri telah terdepresiasi sekitar 4% sejak perdagangan awal tahun ini (year to date/ytd).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *