
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai transaksi perdagangan aset kripto di dalam negeri mengalami penurunan pada Maret 2026 di tengah tekanan sentimen global yang meningkat.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi kripto tercatat turun 4,7% menjadi Rp 22,24 triliun pada Maret 2026, dari Rp 24,33 triliun pada Februari 2026.
Secara akumulasi, total transaksi sepanjang Januari – Maret 2026 mencapai Rp 75,83 triliun.
Rupiah Menguat Tipis, Sentimen Global dan Pertumbuhan Ekonomi RI Jadi Katalis
CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menyebut penurunan tersebut dipicu oleh meningkatnya sentimen risk-off di pasar global.
“Investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko seperti kripto karena kombinasi koreksi harga, volatilitas tinggi, ketidakpastian geopolitik, serta arah kebijakan suku bunga The Fed yang masih menjadi perhatian pasar,” ujar Calvin kepada Kontan, Rabu (6/5/2026).
Ia menjelaskan, meningkatnya ketegangan geopolitik membuat investor lebih selektif dan cenderung beralih ke aset yang lebih defensif.
Di sisi lain, ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama juga memperketat likuiditas global sehingga menekan minat terhadap aset kripto.
Tekanan tersebut tercermin dari kinerja pasar kripto global pada kuartal I-2026.
Bukalapak (BUKA) Telah PHK 60% Karyawan, Kinerjanya Masih Boncos
Kapitalisasi pasar kripto tercatat turun hampir 20%, dengan harga Bitcoin melemah 22,6% dan Ethereum turun 35%.
Selain itu, lebih dari US$ 15,7 miliar posisi leverage mengalami likuidasi.
Arus keluar dana dari ETF Bitcoin dan Ethereum yang mencapai lebih dari US$ 3,4 miliar juga menunjukkan tekanan tidak hanya terjadi di investor ritel, tetapi juga institusional.
Calvin menilai penurunan transaksi pada Maret lebih mencerminkan fase perlambatan sementara, seiring investor mengambil sikap wait and see di tengah ketidakpastian global.
Meski demikian, ia melihat adanya perbaikan sentimen pasar dalam beberapa waktu terakhir, terutama setelah Bitcoin kembali menembus level US$ 80.000 dan bergerak di kisaran US$ 81.000.
“Ketika harga aset utama mulai menguat, kepercayaan investor biasanya ikut membaik dan dapat mendorong aktivitas transaksi secara bertahap,” kata Calvin.
Pelemahan Dolar AS Buka Peluang, Ini Mata Uang yang Menarik Dicermati Investor
Namun, pemulihan tersebut dinilai masih terbatas dan memerlukan konfirmasi lebih lanjut, mengingat pasar masih dibayangi risiko geopolitik, inflasi, serta arah kebijakan suku bunga The Fed.
Ke depan, nilai transaksi kripto domestik diperkirakan masih bergerak fluktuatif.
Aktivitas perdagangan berpotensi kembali meningkat jika harga Bitcoin mampu bertahan di level psikologis penting, tekanan geopolitik mereda, dan kebijakan moneter global menjadi lebih kondusif.