
Scoot.co.id JAKARTA. Kinerja emiten farmasi pada kuartal I-2026 menunjukkan hasil yang bervariasi, mencerminkan dinamika industri di tengah tekanan makroekonomi dan strategi bisnis masing-masing perusahaan.
PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 10,12% menjadi Rp9,67 triliun, namun laba bersihnya turun 4,4% menjadi Rp1,02 triliun. Sebaliknya, PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) berhasil membalikkan kinerja menjadi laba bersih Rp123,6 miliar.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Brigita Kinari, menjelaskan bahwa variasi kinerja ini dipengaruhi oleh kemampuan masing-masing emiten dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan penjualan dan efisiensi biaya.
“Faktor utama pendorong pertumbuhan adalah ekspansi portofolio dan pemulihan permintaan, terutama di segmen nutrisi. Namun, profitabilitas tertahan oleh tekanan makro seperti pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya bahan baku impor,” ujar Brigita kepada Kontan, Rabu (6/5/2026).
Pandangan serupa disampaikan Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand. Ia menilai perbedaan kinerja antar emiten mencerminkan strategi bisnis serta eksposur risiko yang berbeda di masing-masing perusahaan.
Menurutnya, permintaan obat generik dari program JKN serta efisiensi biaya menjadi pendorong utama, sementara pelemahan rupiah dan ketergantungan terhadap bahan baku impor masih menjadi tantangan signifikan.
Rights Issue Grup Bakrie Fokus Perbaikan Keuangan, Cek Rekomendasi Analis
“Sekitar 90% bahan baku farmasi masih impor, sehingga pelemahan rupiah sangat memengaruhi biaya produksi,” jelasnya.
Margin Tertekan, Strategi Berbeda
Khusus untuk KLBF, Brigita menilai penurunan laba di tengah kenaikan penjualan disebabkan oleh kontraksi margin laba kotor.
Pelemahan rupiah sekitar 3,1% memberikan dampak besar, mengingat sekitar 70%–75% biaya produksi berasal dari bahan baku impor. Selain itu, pertumbuhan penjualan lebih banyak ditopang oleh segmen distribusi yang memiliki margin lebih rendah.
“Kombinasi kenaikan biaya bahan baku dan pergeseran bauran pendapatan membuat profitabilitas tertekan,” tambahnya.
Abida menambahkan, tekanan margin juga dipengaruhi oleh investasi pada ekspansi distribusi serta pengembangan segmen nutrisi yang masih berada dalam tahap awal, sehingga margin yang dihasilkan relatif tipis.
“Ini bukan sinyal fundamental memburuk, melainkan fase investasi untuk pertumbuhan jangka menengah,” ujarnya.
Pemulihan KAEF Masih Perlu Konfirmasi
Sementara itu, Brigita melihat pembalikan kinerja KAEF menjadi laba sebagai sinyal positif awal. Namun, keberlanjutan perbaikan tersebut sangat bergantung pada keberhasilan restrukturisasi keuangan.
Ia mencatat, rasio utang KAEF masih tergolong tinggi dengan Debt to Equity Ratio mencapai 4,02 kali dan Debt to EBITDA sebesar 75,89 kali.
“Perbaikan kinerja akan berkelanjutan jika efisiensi rantai pasok dibarengi deleveraging yang nyata,” jelasnya.
Rupiah Tertahan di Tengah Pelemahan Dolar AS, Ini Faktor Penahannya
Abida juga menekankan bahwa pemulihan KAEF masih membutuhkan konfirmasi lebih lanjut dalam beberapa kuartal mendatang.
“Minimal dua kuartal dibutuhkan untuk memastikan pemulihan ini bersifat struktural, bukan hanya efisiensi sementara,” katanya.
Prospek Kuartal II-2026 dan Rekomendasi Saham
Memasuki kuartal II-2026, kedua analis sepakat bahwa sektor farmasi masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari pelemahan rupiah, kenaikan biaya bahan baku, hingga potensi perlambatan pertumbuhan penjualan.
Meski demikian, terdapat sejumlah katalis positif, seperti peningkatan permintaan musiman serta pergeseran ke produk dengan margin lebih tinggi, termasuk obat resep dan nutraceuticals.
Dari sisi rekomendasi, Brigita menjadikan KLBF sebagai top pick dengan rekomendasi beli dan target harga Rp1.600 per saham.
Sementara itu, Abida juga merekomendasikan beli KLBF dengan target harga Rp1.710 per saham, didukung valuasi yang dinilai menarik serta potensi pemulihan margin dalam jangka menengah.