
Scoot.co.id JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerikat Serikat (AS) melemah pada Jumat (17/4/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 0,29% secara harian ke Rp 17.189 per dolar AS.
Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,27% secara harian ke Rp 17.189 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah kembali melemah cukup besar dan mencatatkan rekor paling lemah sepanjang sejarah.
Sentimen negatif domestik masih menjadi pemicu utama pelemahan rupiah. Indeks dolar AS sendiri walau sedikit rebound namun masih tidak jauh dari level terendah dalam 6 minggu terakhir.
IHSG Berpeluang Menguat Terbatas pada Senin (20/4), Ini Rekomendasi Sahamnya
“Untuk Senin (rupiah) akan tergantung pada perkembangan seputar Timur Tengah,” ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (17/4/2026).
Lukman menambahkan, apabila ada harapan besar pada perdamaian di Timur Tengah, bisa mendukung rupiah. Adapun secara sentimen domestik lebih membebani rupiah. Investor juga mengantisipasi rapat dewan gubernur (RDG) BI minggu depan yang hingga saat ini masih diperkirakan akan mempertahankan suku bunga. Hal tersebut akan semakin membebani rupiah.
Lukman memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.100 – Rp 17.250 per dolar AS pada Senin (20/4/2026).
Sementara itu, analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen yang perlu dicermati untuk melihat rupiah besok adalah sentimen defisit fiskal. Ibrahim bilang, ekonomi Indonesia tampak mengawali 2026 dengan cukup meyakinkan.
Inflasi terjaga dan dekat dengan target Bank Indonesia, konsumsi rumah tangga juga relatif cukup solid, bahkan tertopang kuat oleh momentum Ramadan dan Lebaran.
Reksadana Campuran Turun 5,2% di Maret 2026, Ini Strategi Pinnacle Genjot Return
Neraca perdagangan juga masih mencatatkan surplus, sementara sektor komoditas dari batu bara hingga minyak kelapa sawit juga masih memberi bantalan terhadap tekanan global.
“Namun, menginjak akhir kuartal I-2026 tekanan eksternal terjadi,” ucap Ibrahim.
Ibrahim menyebut, eskalasi perang Amerika Serikat (AS) dan Iran secepat kilat telah membawa kenaikan harga minyak di atas asumsi makro yang jadi dasar perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sebelumnya, pemerintah bertemu dengan lembaga pemeringkat global Standard & Poor’s (S&P) di AS, menekankan komitmen Indonesia dalam menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Simak Rekomendasi Saham Sektor Batubara yang Layak Dilirik
“Defisit APBN 2026 yang sebelumnya diperkirakan akan melebar ke kisaran 2,9% karena kenaikan harga minyak, bahkan diperkirakan bisa turun sedikit ke kisaran 2,8% terhadap PDB,” kata Ibrahim.
Ibrahim memproyeksikan rupiah pada Senin (20/4/2026) bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah direntang Rp 17.180 – Rp 17.220 per dolar AS.