
Bisnis.com, JAKARTA — Kevin Warsh dilantik sebagai Ketua Dewan gubernur Federal Reserve (The Fed) pada hari ini, Jumat (22/5/2026).
Melansir The Hill, Warsh dijadwalkan dilantik oleh Presiden Donald Trump sebagai ketua baru bank sentral Amerika Serikat (AS), mengambil alih kepemimpinan The Fed dari Jerome Powell yang telah menjabat selama dua periode.
Setelah bertahun-tahun mengkritik Ketua The Fed sebelumnya, Trump menegaskan sebelum pencalonan Warsh bahwa dirinya hanya akan mempertimbangkan kandidat yang dapat dipercaya untuk memangkas suku bunga.
: Jerome Powell Ditunjuk Jadi Ketua Ad Interim The Fed sebelum Kevin Warsh Dilantik
Namun, lonjakan inflasi serta perbedaan pandangan di kalangan pejabat The Fed berpotensi membuat Warsh sulit memenuhi keinginan presiden sekaligus menjalankan mandatnya sebagai pimpinan bank sentral.
Kepala Ekonom RSM Joe Brusuelas mengatakan Kevin Warsh akan memulai masa jabatannya sebagai Ketua The Fed dengan apa yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai mandat dari presiden untuk memangkas suku bunga.
: : Rupiah Berisiko Terus Tertekan, Kevin Warsh hingga Geopolitik Jadi Sorotan
“Namun, kenaikan terbaru ekspektasi inflasi berbasis pasar mengindikasikan bahwa Warsh dan Federal Open Market Committee (FOMC) harus bersiap menghadapi kemungkinan inflasi terus meningkat sehingga The Fed perlu mengubah arah kebijakannya.”
Berikut sejumlah tantangan utama yang akan dihadapi Warsh setelah resmi menjabat.
: : Kevin Warsh Jadi Bos The Fed, Begini Nasib Imbal Hasil Obligasi RI
Tekanan Politik dari Trump
Di atas berbagai tantangan ekonomi dan keuangan yang dihadapi The Fed, terdapat tekanan politik dari Trump yang secara terbuka menilai suku bunga AS seharusnya sudah berada pada level yang lebih rendah.
Penolakan The Fed untuk memangkas suku bunga hingga mendekati nol selama sebagian besar masa jabatan pertama Trump menjadi salah satu sumber utama ketegangan antara Trump dan Powell, yang merupakan sosok Partai Republik yang ditunjuk Trump sebagai Ketua The Fed pada 2017.
Meski demikian, Warsh menegaskan bahwa Trump tidak pernah memintanya berkomitmen untuk memangkas suku bunga. Dia juga berjanji akan mengambil keputusan berdasarkan kondisi ekonomi yang ada.
Trump pada awal pekan ini turut meredam kekhawatiran mengenai potensi intervensinya terhadap The Fed. Dia mengatakan Warsh akan diberi kebebasan untuk “melakukan apa yang ingin dia lakukan”.
“Dia orang yang sangat berbakat,” kata Trump. “Dia akan baik-baik saja. Dia akan melakukan pekerjaan yang bagus.”
Namun, pernyataan terbaru Trump berbeda dengan sikap sebelumnya ketika menekankan bahwa dirinya menginginkan pemimpin The Fed yang bersedia memangkas suku bunga secara agresif.
Lonjakan Inflasi akibat Konflik Iran
Keinginan Trump untuk melihat suku bunga yang lebih rendah kemungkinan sulit terwujud karena perang di Iran mendorong kenaikan harga yang lebih tinggi.
Laju inflasi tahunan AS melonjak menjadi 3,8% pada April berdasarkan indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) yang dirilis Departemen Tenaga Kerja AS. Angka tersebut merupakan level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Pada saat yang sama, harga produsen pada April meningkat dengan laju tercepat dalam hampir tiga tahun, memperdalam kekhawatiran mengenai tekanan inflasi.
Warsh menilai sebagian besar lonjakan inflasi akibat konflik Iran berasal dari kenaikan sementara harga bahan bakar dan pangan yang diperkirakan akan mereda ketika konflik mulai mereda. Sejumlah pejabat tinggi pemerintahan juga meyakini harga akan turun setelah Selat Hormuz kembali dibuka.
Namun, karena belum ada tanda-tanda berakhirnya konflik, The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini, bahkan berpotensi menaikkannya dalam jangka waktu yang belum dapat dipastikan.
Analis Pasar Principal Asset Management Christian Floro mengatakan data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan ini membuat ketua baru The Fed menghadapi kembali pertanyaan mengenai stabilitas harga dan waktu yang tepat untuk melonggarkan kebijakan.
“Bagi investor, risiko yang meningkat adalah mereka mungkin harus menunggu hingga 2027 sebelum melihat pelonggaran kebijakan lebih lanjut dari The Fed,” ungkap Floro.
Tenaga Kerja Menyusut dan Kenaikan Tarif
Sebelum perang Iran pecah pada Februari, The Fed sudah berupaya memahami cara mengelola perekonomian yang menghadapi penyusutan jumlah tenaga kerja dan kenaikan tarif impor.
Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan kebijakan pemangkasan imigrasi dan peningkatan deportasi yang diterapkan Trump menyebabkan lebih dari 600.000 orang keluar dari angkatan kerja AS dalam setahun terakhir.
Pertumbuhan lapangan kerja juga melambat tajam sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2025, dengan peningkatan bersih yang sangat terbatas selama periode pemerintahan keduanya.
Penurunan jumlah pencari kerja dan lowongan pekerjaan secara bersamaan membantu menahan lonjakan pengangguran. Tingkat pengangguran hanya meningkat 0,3 poin persentase sejak awal masa jabatan kedua Trump.
“Pasar tenaga kerja, menurut saya, cukup stabil. Mungkin tidak baik, tetapi stabil. Sementara itu, inflasi tidak stabil,” kata Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee dalam wawancara dengan Fox Business Network pada Senin.
Goolsbee menambahkan bahwa inflasi tampak meningkat pada sejumlah sektor yang tidak secara langsung terkait dengan perang Iran, sehingga memperumit tantangan yang dihadapi Warsh.
Perpecahan di Internal The Fed
Tantangan Warsh tidak hanya datang dari kondisi ekonomi yang kompleks, tetapi juga dari dinamika internal The Fed.
Warsh akan mengambil alih kepemimpinan FOMC yang dalam dua tahun terakhir mengalami polarisasi yang cukup tajam.
Sebagai ketua FOMC, Warsh memimpin komite penentu suku bunga dan memiliki pengaruh besar dalam pembahasan kebijakan moneter. Namun, dia hanya memegang satu dari total 12 suara dalam proses pengambilan keputusan, sehingga perlu membangun konsensus dengan anggota lainnya untuk mewujudkan agenda kebijakannya.
Tugas tersebut menjadi semakin sulit dalam beberapa bulan terakhir. Pada Mei, FOMC memutuskan mempertahankan suku bunga melalui voting 8 berbanding 4, menjadi kali pertama sejak 1992 lebih dari tiga pejabat menentang keputusan suku bunga yang diambil.
“Kami meragukan Ketua The Fed Kevin Warsh dapat memberikan pemangkasan suku bunga yang diinginkan Presiden Trump jika data ekonomi yang masuk tidak mendukung,” tulis Strategis Standard Chartered Bank Steve Englander dan John Davies dalam catatan riset.
Tantangan Hukum
Warsh juga akan memimpin The Fed di tengah sejumlah tantangan hukum yang melibatkan pemerintahan Trump, termasuk penghentian secara bertahap penyelidikan pidana terhadap Powell.
Selain itu, The Fed tengah menantikan putusan Mahkamah Agung AS terkait apakah Gedung Putih memiliki kewenangan untuk memberhentikan anggota Dewan Gubernur The Fed, Lisa Cook.
Putusan tersebut dinilai memiliki implikasi besar terhadap independensi The Fed sebagai bank sentral AS.