Emiten properti diproyeksi moncer pada 2026, ini saham pilihannya

Scoot.co.id JAKARTA. Prospek emiten properti pada 2026 dinilai tetap positif, didorong oleh program pembangunan 3 juta rumah serta berbagai insentif pemerintah yang menjaga permintaan. Meski demikian, laju pertumbuhan sektor ini diperkirakan lebih moderat dibandingkan tahun sebelumnya.

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan mengatakan, prospek sektor properti akan ditopang oleh penurunan suku bunga yang mulai berdampak pada kredit pemilikan rumah (KPR), serta keberlanjutan insentif seperti PPN ditanggung pemerintah (DTP).

“Program 3 juta rumah juga akan memacu marketing sales, terutama di segmen menengah. Kami melihat pertumbuhan akan lebih stabil dengan landed house sebagai penopang utama,” ujar David kepada Kontan, Kamis (16/4/2026).

Senada, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai sektor properti masih memiliki prospek positif, meskipun tidak setinggi 2025.

Bisnis Menantang, United Tractors (UNTR) Terapkan Strategi Defensif di 2026

“Katalisnya berasal dari perpanjangan PPN DTP hingga Desember 2027, program 3 juta rumah, serta potensi penurunan BI Rate lanjutan yang menekan biaya KPR,” jelasnya.

Abida menambahkan, ke depan kinerja emiten properti akan semakin ditopang oleh recurring income dari aset sewaan, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada penjualan unit.

Sementara itu, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata melihat dampak program 3 juta rumah terhadap emiten besar cenderung moderat, dengan pertumbuhan pre-sales diperkirakan berada di kisaran low hingga mid single digit.

“Segmen landed house dan township masih menjadi kontributor utama pertumbuhan,” ungkapnya.

Dari sisi emiten, sejumlah pengembang dinilai akan menjadi penerima manfaat utama program ini. David menyebut PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) sebagai pemain kunci, didukung oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) dari sisi pembiayaan.

Liza menambahkan, beneficiary langsung juga mencakup pengembang yang aktif di segmen affordable housing, seperti PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL), serta sebagian portofolio CTRA.

Abida turut menyoroti kesiapan CTRA dan SMRA dalam menangkap peluang, sementara BSDE diuntungkan oleh kepemilikan landbank yang luas. Selain itu, emiten konstruksi seperti PT PP (Persero) Tbk (PTPP) juga berpotensi mendapatkan dampak positif secara tidak langsung.

Prospek Obligasi Pemerintah Bergantung pada Sentimen Risiko Global hingga Rupiah

Dari sisi kebijakan, pelonggaran aturan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dinilai menjadi katalis tambahan bagi sektor ini.

David menilai kebijakan tersebut dapat memperluas basis pembeli dari sektor informal serta mempercepat proses akad kredit.

“Likuiditas emiten juga berpotensi membaik,” ujarnya.

Abida menambahkan, kebijakan ini memungkinkan masyarakat dengan catatan kredit kecil tetap mengakses KPR subsidi, sehingga memperbesar pasar potensial di segmen menengah bawah. Namun, dampaknya terhadap pendapatan emiten diperkirakan baru terasa dalam 1–2 kuartal.

Meski prospek positif, analis mengingatkan sejumlah risiko yang perlu diwaspadai. David menyoroti potensi tekanan dari inflasi dan kenaikan biaya material bangunan yang dapat menggerus margin.

Abida juga menambahkan risiko dari daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, pergerakan suku bunga, serta tingginya stok properti yang belum terserap pasar.

Bitcoin dan Ethereum Menguat, Dana Institusi Masuk Deras! Simak Proyeksinya

Selain itu, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya bahan bangunan impor sekaligus menahan kepercayaan konsumen.

Dari sisi rekomendasi, analis kompak menjagokan saham properti berkapitalisasi besar. David merekomendasikan buy untuk CTRA dan BSDE.

Sementara itu, Abida menempatkan BSDE sebagai top pick dengan target harga Rp1.200, diikuti CTRA dengan target Rp1.300 dan SMRA dengan target Rp570.

Liza menambahkan, saham seperti BSDE, CTRA, dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) tetap menarik untuk dikoleksi, sementara PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) lebih mencerminkan cerita premium township ketimbang penerima manfaat langsung program rumah rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *