Harga minyak dunia melonjak lebih dari US$ 3 per barel, dipicu penurunan stok AS

Scoot.co.id  NEW YORK. Harga minyak dunia melonjak lebih dari US$ 3 per barel pada perdagangan Rabu (22/4/2026) waktu New York.

Lonjakan ini dipicu kombinasi penurunan mengejutkan stok bahan bakar di Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah adanya laporan penembakan kapal-kapal kontainer di Selat Hormuz.

Berdasarkan data Energy Information Administration (EIA), stok minyak mentah AS tercatat naik 1,9 juta barel menjadi 465,7 juta barel pada pekan yang berakhir 17 April. 

Namun di saat yang sama, persediaan bensin justru turun tajam 4,6 juta barel menjadi 228,4 juta barel, jauh lebih besar dari ekspektasi analis yang hanya memperkirakan penurunan 1,5 juta barel. 

Harga Minyak Bergejolak, Transaksi Kontrak Berjangka ICDX Melonjak

Stok distilat juga ikut menyusut 3,4 juta barel menjadi 108,1 juta barel, lebih besar dari perkiraan penurunan 2,5 juta barel. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasokan bahan bakar di pasar AS yang selama ini menjadi acuan global.

Sentimen pasar semakin tertekan oleh situasi keamanan di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang selama ini menjadi urat nadi pengiriman energi dunia. 

Pada hari yang sama, sedikitnya tiga kapal kontainer dilaporkan terkena tembakan di kawasan tersebut. Iran melalui Garda Revolusi juga menyita dua kapal dengan alasan pelanggaran maritim dan membawa kapal tersebut ke wilayahnya. 

Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai jalur vital yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia sebelum konflik yang berlangsung sejak akhir Februari mengganggu stabilitas kawasan.

Di tengah ketegangan itu, harga minyak Brent ditutup naik US$3,43 atau 3,48 persen ke level US$101,91 per barel. 

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat US$3,29 atau 3,67 persen menjadi US$92,96 per barel. Bahkan pada sesi perdagangan, WTI sempat melonjak lebih dari US$4 per barel sebelum akhirnya sedikit terkoreksi. 

Kenaikan ini melanjutkan tren penguatan sekitar 3 persen pada sesi sebelumnya.

Harga Minyak Melonjak 3% di Tengah Ketidakpastian Iran-AS, Pasokan Global Terancam

Situasi geopolitik juga diperburuk oleh kebuntuan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Presiden AS Donald Trump menyatakan akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, namun tidak ada kepastian dari pihak Iran maupun Israel terkait kesepakatan tersebut.

Negosiasi damai yang semestinya berlangsung di Pakistan juga dilaporkan tidak dihadiri kedua pihak.

Di sisi lain, pernyataan dari parlemen Iran menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz hanya mungkin terjadi jika blokade terhadap pelabuhan Iran dihentikan. 

Iran bahkan menyebut pelanggaran gencatan senjata sebagai alasan yang membuat jalur strategis tersebut tetap tertutup, memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Ketegangan kawasan juga meluas ke Lebanon, di mana sedikitnya empat orang dilaporkan tewas akibat serangan Israel di bagian selatan negara itu. 

Harga Minyak Melonjak 3% di Tengah Ketidakpastian Iran-AS, Pasokan Global Terancam

Kelompok Hizbullah kemudian mengklaim telah meluncurkan drone serang ke arah pasukan Israel, menandakan rapuhnya gencatan senjata yang didukung Iran di kawasan tersebut.

Dari sisi pasokan global, Rusia juga mengambil langkah penyesuaian dengan mengalihkan pengiriman minyak dari Kazakhstan yang sebelumnya ditujukan ke Jerman melalui pipa Druzhba ke jalur lain mulai 1 Mei. Pemerintah Rusia menyebut keputusan ini bersifat teknis dan telah disepakati dengan pihak Kazakhstan.

Sementara itu, Amerika Serikat melalui Departemen Keuangan memperpanjang keringanan sanksi terhadap minyak Rusia selama 30 hari, dengan alasan permintaan dari negara-negara yang rentan terhadap potensi kekurangan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz. 

Di Eropa, Uni Eropa juga mulai mempertimbangkan kebijakan baru untuk mewajibkan negara-negara anggotanya menyimpan cadangan bahan bakar jet, bahkan membuka opsi redistribusi pasokan jika terjadi kelangkaan regional.

Harga Minyak Melemah Jelang Akhir Gencatan Senjata Timur Tengah

Kombinasi antara data stok bahan bakar AS yang mengejutkan dan meningkatnya risiko gangguan jalur suplai energi global membuat pasar minyak kembali bergerak agresif, dengan sentimen geopolitik kini menjadi faktor dominan yang membayangi arah harga dalam jangka pendek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *