
Scoot.co.id JAKARTA — Indeks Bisnis-27 ditutup di zona merah pada penutupan perdagangan Senin (20/4/2026), ditopang pelemahan saham AMRT, BRPT, dan MAPI.
Berdasarkan data IDX Mobile, Indeks kerja sama dengan harian Bisnis Indonesia ini ditutup melemah 2,51 poin atau sebesar 0,50% ke level 498,23 pada penutupan perdagangan. Sepanjang hari, indeks bergerak di rentang 496,61 hingga 504,09.
Dari sisi likuiditas, total nilai transaksi pada saham-saham yang tergabung dalam Indeks Bisnis-27 mencapai Rp5,78 triliun, dengan volume perdagangan sekitar 3,1 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 397,2 ribu kali.
Sebanyak 18 saham konstituen bergerak merah, 4 saham konstituen menghijau, dan sisanya 5 saham cenderung stagnan.
: IHSG Ditutup Turun ke 7.954, Saham UNVR, TPIA hingga PANI Terjungkal
Mayoritas saham masih mengalami tekanan. Saham seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) memimpin pelemahan sebesar 4,58% ke level Rp1.460, saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) juga turun 4,04% ke level Rp2.140, disusul saham PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) turun 2,71% ke level Rp 1.255, dan saham PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) turun 0,60% ke level Rp935, hingga saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) turun 2,42% ke level Rp242.
Penguatan indeks didorong oleh kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham perbankan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi penopang utama setelah mencatatkan kenaikan 0,78% ke level Rp6.475, dan saham PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk. (BBRI) naik 0,29% ke level Rp3.440. Selain itu, saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) juga turut menguat 0,76% ke level Rp10.000 dan saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) naik 0,60% ke level Rp1.675.
Tim riset Sinarmas Sekuritas mengatakan sentimen pasar global sempat membaik seiring penurunan harga energi yang sebelumnya melonjak tajam, sehingga mereduksi kekhawatiran terhadap risiko stagflasi berbasis energi. Namun, optimisme tersebut tidak bertahan lama setelah ketegangan geopolitik kembali meningkat pada akhir pekan.
Eskalasi terbaru dipicu oleh aksi Amerika Serikat yang menembak dan menyita kapal milik Iran di kawasan Teluk Oman. Situasi semakin memanas setelah Iran menolak upaya perdamaian baru dengan AS, sehingga memicu kembali kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Akibatnya, harga minyak mentah kembali melonjak di awal pekan dan menembus level US$89 per barel. Kenaikan ini juga dipicu oleh kekhawatiran gangguan distribusi minyak di jalur strategis Timur Tengah, termasuk potensi pembatasan akses di Selat Hormuz.
Di sisi domestik, pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi. Mulai 1 Juli 2026, pemerintah berencana menghentikan impor solar seiring implementasi program biodiesel B50 berbasis sawit. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor sekaligus mendukung industri kelapa sawit nasional.
Selain itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut adanya kesepakatan impor minyak dari Rusia yang akan menjamin keamanan pasokan energi Indonesia hingga akhir 2026.
Sementara itu di tingkat global, ketegangan tidak hanya terjadi di Timur Tengah. Hubungan Amerika Serikat dengan Peru juga memanas setelah Peru menunda kontrak pembelian jet tempur F-16 senilai sekitar Rp34 triliun, yang memicu respons keras dari Washington.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.