Jelang RDG BI, tekanan rupiah diperkirakan berlanjut

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Selasa (21/4) hingga Rabu (22/4). 

Pelaku pasar menanti arah kebijakan moneter di tengah meningkatnya ketidakpastian eksternal dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky menilai ruang gerak BI dalam menentukan suku bunga acuan semakin terbatas. Hal ini seiring meningkatnya ekspektasi inflasi, sementara terdapat dorongan agar suku bunga tetap rendah.

Yanuar mengatakan kondisi tersebut membuat respons kebijakan moneter menjadi kurang optimal dan berdampak pada pelemahan rupiah.

Jelang RDG BI, Begini Proyeksi Rupiah untuk Besok (21/4)

“Jadi, respons yang terlambat dari kebijakan rate, menambah beban Operasi Pasar Terbuka (OPT) atau intervensi di saat natural hedging pemilik dana Rupiah juga konversi ke USD meski di perbankan dalam negeri,” ujar Yanuar kepada Kontan, Senin (20/4/2026).

Menurut dia, jika BI memutuskan menaikkan suku bunga dalam RDG kali ini, langkah tersebut dinilai tidak cukup efektif karena selisih suku bunga (rate gap) sudah terlanjur melebar.

Selain itu, Yanuar menilai terdapat keterbatasan dari sisi kebijakan yang membuat BI sulit mengambil langkah yang berbeda.

“Jika BI menaikkan suku bunga pada RDG besok maka ekspektasi rate gap sudah lebar dan BI juga tak punya keberanian politik berbeda dengan pemerintah,” katanya.

Di sisi lain, BI dinilai masih mengandalkan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah. Yanuar melihat bank sentral berupaya menahan pelemahan agar tidak menembus level tertentu.

“Jadi kalau lihat market mendorong, (rupiah) terus melemah dan BI coba tahan enggak lebih dari Rp 17.150 per dolar AS,” kata Yanuar.

Ia memperkirakan pada pekan ini pergerakan rupiah akan berada di kisaran Rp 17.100–Rp 17.200 per dolar AS, meskipun tekanan pasar berpotensi mendorong ke arah Rp17.500.

Menurut Yanuar, risiko pelemahan yang lebih dalam bisa terjadi apabila muncul sentimen negatif tambahan, seperti isu peringkat kredit, kebutuhan valas BUMN, hingga kondisi pembiayaan pemerintah.

“Selama gagal fiskal tak terjadi, maka pelemahan lebih karena natural hedging inflasi yang meningkatkan demand USD di domestik,” ujar Yanuar.

Sebaliknya, jika tidak ada sentimen besar, Yanuar memperkirakan BI masih mampu menjaga pergerakan rupiah di kisaran Rp17.000–Rp 17.500 per dolar AS. Namun, tekanan pasar tetap berpotensi mendorong pelemahan hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS.

Sebagai informasi, Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,12% ke level Rp 17.168 per dolar AS pada Senin (20/4/2026), dari sebelumnya Rp 17.189 per dolar AS.

COCO Kantongi Restu Right Issue, Siapkan Terbitkan 10,67 Miliar Saham Baru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *