
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rupiah berpotensi kembali tertekan dalam waktu dekat seiring meningkatnya tekanan global dan terbatasnya ruang kebijakan moneter menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).
Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,12% ke level Rp 17.168 per dolar AS pada Senin (20/4/2026), dari posisi sebelumnya di Rp 17.189 per dolar AS pada Jumat (17/4/2026).
Sekedar mengingatkan, BI dijadwalkan menggelar RDG pada Selasa (21/4/2026) hingga Rabu (22/4/2026). Pasar menanti arah kebijakan moneter di tengah meningkatnya ketidakpastian eksternal.
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.168 Per Dolar AS Hari Ini (20/4), Asia Melemah
Pakar ekonomi, Ferry Latuhihin mengatakan, kenaikan harga energi dapat mempersempit ruang gerak kebijakan moneter, di tengah kondisi ekonomi domestik yang masih menghadapi tekanan.
“BI tidak bisa menaikkan suku bunga acuan dalam kondisi macam ini di mana ekonomi kita sedang melemah. Menurunkan suku bunga berbahaya, dolar AS bisa makin perkasa,” ujar Ferry kepada Kontan, Senin (20/4/2026).
Selain itu, pasar juga mencermati potensi pelebaran defisit fiskal seiring perlambatan penerimaan negara serta risiko penurunan outlook peringkat kredit Indonesia yang dapat meningkatkan premi risiko.
Dari sisi global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menjadi perhatian, terutama terkait potensi gangguan di jalur distribusi energi yang dapat mendorong harga minyak kembali naik.
Jika harga minyak menembus level US$ 100 per barel pada pekan ini maka tekanan terhadap rupiah diperkirakan semakin besar.
Harga BBM Nonsubsidi Naik, Rupiah Menguat ke Rp 17.168 per Dolar AS Hari Ini (20/4)
Ferry memperkirakan pada pekan ini rupiah berpotensi melemah dan menguji level Rp 17.300 per dolar AS.
Bahkan, pada kuartal II-2026, ia memproyeksikan nilai tukar rupiah dapat bergerak di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.500 per dolar AS, seiring meningkatnya risiko eksternal dan terbatasnya ruang stabilisasi.