
Scoot.co.id , JAKARTA – Indeks Bisnis-27 ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026). Meskipun begitu, sejumlah saham seperti ASII, TLKM, hingga MEDC masih bergerak menguat hingga perdagangan sore hari.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks hasil kerja sama BEI dengan Harian Bisnis Indonesia ditutup melemah 0,73% ke level 456,43. Dari 27 konstituen, sebanyak 9 saham menguat, 17 melemah, dan 1 saham stagnan.
Penguatan harga saham dipimpin oleh PT Astra International Tbk. (ASII) yang naik 4,35% ke Rp6.000, diikuti saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang naik 4,05% ke Rp3.080, dan saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) yang naik 2,55% ke Rp1.610.
: BEI: Emiten HSC Ajukan Permintaan Audiensi
Selain itu, penguatan juga dialami oleh saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) yang naik 0,96% ke Rp4.200, saham PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) naik 0,71% ke Rp2.850, dan saham PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) naik 0,69% ke Rp1.465.
Sebaliknya, pelemahan harga saham dialami oleh saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang turun 9,71% ke Rp3.160, PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) turun 9,09% ke Rp440, dan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) turun 8,94% ke Rp5.350.
: : IHSG Ditutup Melemah, Saham TLKM-PTBA Masih Perkasa
Selain itu, kinerja saham PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) turut terkoreksi 7,69% ke Rp540, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) turun 6,49% ke Rp720, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) turun 4,72% ke Rp8.575, dan saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) turun 3,74% ke Rp206.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan bahwa penurunan tajam indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam pekan lalu disebabkan oleh kombinasi tekanan global dan domestik yang datang bersamaan.
: : MSCI, FTSE Russel, dan Peluang Rebalancing Asing ke Saham Fundamental Kuat
Sementara untuk perdagangan 18-22 Mei 2026, Imam menilai fokus pasar masih akan tertuju pada implementasi MSCI rebalancing menjelang effective date 29 Mei 2026. Volatilitas diperkirakan tetap tinggi, terutama pada sesi closing auction yang biasanya menjadi titik utama penyesuaian portofolio passive funds global.
“Namun menariknya, di balik potensi outflow tersebut, terdapat peluang rotasi inflow menuju saham-saham yang diperkirakan mengalami peningkatan bobot indeks seperti BMRI, BRMS, PGAS, ADRO, INDF, hingga MTEL dan TOWR,” ujarnya.
Selain itu, pasar juga mulai mengantisipasi potensi upgrade Korea Selatan dari Emerging Market menjadi Developed Market oleh MSCI, yang dalam jangka menengah dapat membuka peluang reallocation flow ke pasar emerging termasuk Indonesia.
Secara teknikal, sambungnya, IHSG saat ini masih berada dalam fase bearish dengan support berikutnya berada di area 6.640 hingga 6.538. Walaupun indikator mulai menunjukkan tanda awal bearish exhaustion, konfirmasi reversal masih belum terbentuk sehingga strategi defensif tetap menjadi pendekatan yang paling relevan dalam jangka pendek.
Menurutnya, tekanan pasar saat ini lebih mencerminkan faktor teknikal dan mekanisme global rebalancing dibanding deteriorasi fundamental ekonomi domestik secara struktural. Dengan pertumbuhan PDB Indonesia kuartal I-2026 yang tetap solid di level 5,61%, pasar domestik menurutnya masih memiliki fundamental yang cukup resilien.
“Namun, hingga arus dana asing mulai stabil pasca effective date MSCI, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi dan menuntut investor untuk lebih disiplin dalam mengelola risiko dan posisi trading,” tandasnya.