INDY terbitkan surat utang senior US$ 100 juta untuk ekspansi, simak pandangan analis

Scoot.co.id JAKARTA. PT Indika Energy Tbk (INDY) mengumumkan telah menyelesaikan penerbitan dan penawaran surat utang senior senilai US$ 100 juta pada 13 Mei 2026 lalu. Surat utang ini bakal menjadi sumber pendanaan untuk kegiatan ekspansi bisnis INDY.

Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), surat utang senior ini memiliki tingkat bunga tetap sebesar 8,75% per tahun dan jatuh tempo pada 2029. 

Surat utang senior tersebut dijamin secara tanpa syarat dan tidak dapat ditarik kembali oleh jaminan perusahaan yang diberikan oleh PT Indika Inti Corpindo, PT Tripatra Multi Energi, PT Tripatra Engineering, PT Ptripatra Engineers and Constructors, dan Tripatra (Singapore) Pte. Ltd., yang secara bersama-sama menjadi anak perusahaan penjamin.

INDY bermaksud untuk menggunakan seluruh dana hasil penerbitan surat utang senior tersebut secara eksklusif guna membiayai belanja modal sehubungan dengan pengembangan proyek tambang emas di Sulawesi Selatan. Tambang tersebut dimiliki oleh PT Masmindo Dwi Area, anak usaha yang dimiliki sepenuhnya oleh INDY.

Analis Sarankan Wait and See Saham SMRA, Ini Level Support dan Resistancenya

“Transaksi ini dilakukan untuk mendukung upaya transisi perusahaan yang lebih luas dari bisnis batubara menuju portofolio bisnis yang lebih terdifersifikasi,” tulis Sekretaris Perusahaan Indika Energy Adi Pramono dalam keterbukaan informasi, Senin (18/5/2026).

Penerbitan surat utang ini termasuk dalam transaksi afiliasi, mengingat adanya pemberian jaminan perusahaan (corporate guarantee) oleh anak usaha penjamin dan pemberian gadai saham oleh anak usaha penjamin. 

Secara terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, penerbitan surat utang ini jelas akan berdampak pada peningkatan leverage INDY, terutama pada aspek Debt to Equity Ratio dan Debt to EBITDA Ratio. 

Lantaran digunakan untuk proyek emas Awak Mas yang digadang-gadang akan menjadi penopang kinerja bisnis non-batubara, Nafan percaya surat utang ini tidak akan mengganggu kondisi keuangan INDY dalam jangka pendek dan menengah.

“Dampak terhadap neraca keuangan semestinya masih dalam kategori terukur dan wajar untuk emiten yang sedang berada di fase ekspansi,” ujar dia, Selasa (19/5/2026).

Namun, kupon surat utang yang mencapai 8,75% per tahun dipandang cukup besar dan mencerminkan tingginya risk premium di pasar obligasi global saat ini. Dengan begitu, investor perlu mencermati perkembangan arah suku bunga acuan global yang akan menjadi sentimen terhadap strategi pendanaan emiten, termasuk INDY.

Harga Bitcoin Turun 4,75% Sepekan, Tekanan ETF dan Yield Membayangi

Lebih lanjut, Nafan memperkirakan potensi INDY untuk kembali memanfaatkan pendanaan berbasis utang atau pinjaman cukup terbuka. Ini mengingat, kebutuhan investasi untuk ekspansi di segmen non-batubara INDY tergolong besar. Selain proyek Awak Mas, INDY juga gencar ekspansi ke sektor industri kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga kepelabuhan.  

“Yang terpenting INDY bisa mengeksekusi proyeknya sesuai timeline dan tetap mendiversifikasi sumber pendanaan,” imbuh dia.

Sementara itu, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyampaikan, secara teknikal, posisi pergerakan saham INDY masih berada di fase downtrend dan didominasi oleh tekanan jual. Indikator MACD dan Stochastic masih mengarah ke area negatif dan belum menunjukkan tanda berbalik arah.

Ia pun merekomendasikan wait and see saham INDY dengan support di level Rp 2.320 per saham dan resistance di level Rp 2.600 per saham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *