Kinerja reksadana menguat pada April 2026, ini faktor pendorongnya

Scoot.co.id JAKARTA. Kinerja reksadana kompak mencatatkan penguatan sepanjang April 2026. Namun, kenaikan tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan fundamental, melainkan lebih dipengaruhi oleh technical rebound setelah tekanan pasar pada bulan sebelumnya.

Berdasarkan data Infovesta per 29 April 2026, reksadana saham mencatat kenaikan tertinggi secara month to date (MtD) sebesar 3,07%. Kinerja ini diikuti reksadana campuran yang naik 1,69%, reksadana pendapatan tetap sebesar 0,46%, serta reksadana pasar uang yang menguat 0,29%.

Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management, Genta Wira Anjalu, menilai penguatan pada reksadana saham lebih banyak didorong oleh faktor teknikal dibandingkan perbaikan fundamental pasar.

“Sentimen pasar juga membaik seiring ekspektasi bahwa tekanan suku bunga global mulai lebih stabil, meskipun investor masih mencermati arah kebijakan The Fed dan pergerakan rupiah,” ujar Genta kepada Kontan, Senin (4/5/2026).

Purbaya Janjikan Insentif Reksadana, Industri Minta Berupa Keringanan Pajak

Sejalan dengan itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut menguat ke level sekitar 7.101 pada 29 April 2026. Penguatan indeks ditopang oleh sektor industri dan infrastruktur, meskipun investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell).

Di sisi lain, kinerja reksadana pendapatan tetap cenderung terbatas. Hal ini seiring dengan pergerakan pasar obligasi yang masih berhati-hati. Penurunan yield obligasi memang memberikan sentimen positif, tetapi ruang penguatan dinilai belum terlalu besar.

Sejumlah risiko masih menjadi perhatian investor, antara lain tekanan nilai tukar rupiah, inflasi, arah suku bunga global, hingga kebutuhan pembiayaan fiskal pemerintah.

Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026 mempertahankan BI-Rate di level 4,75%, dengan suku bunga deposit facility sebesar 3,75% dan lending facility 5,50%. Stabilnya suku bunga ini membuat potensi capital gain dari obligasi belum terlalu agresif.

Saat Pasar Turun, Ini Jadi Kesempatan Beli Unit Reksadana Lebih Banyak

Sementara itu, reksadana pasar uang tetap menjadi instrumen dengan kinerja paling stabil, meskipun menawarkan imbal hasil yang relatif terbatas. Pergerakannya cenderung mengikuti tren suku bunga deposito dan instrumen pasar uang jangka pendek.

Genta memproyeksikan peluang kenaikan reksadana masih terbuka hingga akhir kuartal II-2026, meskipun pergerakannya diperkirakan tidak linier.

“Untuk reksadana saham dan campuran, arah pasar akan sangat bergantung pada rilis kinerja emiten, arus dana asing, stabilitas rupiah, serta ekspektasi suku bunga global,” kata Genta.

Untuk reksadana pendapatan tetap, prospeknya dinilai tetap konstruktif selama yield obligasi domestik stabil atau menurun. Namun, tekanan terhadap rupiah maupun kenaikan yield US Treasury berpotensi kembali memicu volatilitas pasar.

Pada akhir April, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun berada di kisaran 6,8%. Level ini masih membuka ruang penguatan, meskipun cenderung selektif.

Dari sisi strategi investasi, Sinarmas Asset Management mengedepankan pendekatan selektif berbasis fundamental dengan dukungan analisis berbasis kecerdasan buatan (AI).

“Kami fokus pada saham dengan neraca kuat, arus kas sehat, valuasi menarik, serta prospek pertumbuhan laba yang solid,” kata Genta.

Kinerja Reksadana Pasar Uang Masih Unggul, Pendapatan Tetap Berpeluang Bangkit

Ia menambahkan, sektor berbasis komoditas seperti energi, emas, dan crude palm oil (CPO) masih menjadi fokus perhatian.

Untuk reksadana campuran, alokasi aset dijaga fleksibel antara saham, obligasi, dan pasar uang. Strategi ini memungkinkan penyesuaian cepat terhadap dinamika pasar, dengan meningkatkan porsi obligasi dan pasar uang saat volatilitas saham tinggi, serta menambah porsi saham ketika valuasi dinilai menarik.

Dengan asumsi kondisi pasar relatif stabil hingga akhir tahun tanpa adanya guncangan global yang signifikan, estimasi imbal hasil dalam 12 bulan ke depan diperkirakan berada pada kisaran 4%–5% untuk reksadana pasar uang, 5%–7% untuk reksadana pendapatan tetap, 7%–10% untuk reksadana campuran, dan 8%–12% untuk reksadana saham.

Meski demikian, proyeksi tersebut tetap bergantung pada dinamika pasar ke depan. Investor disarankan untuk tetap menyesuaikan pilihan reksadana dengan profil risiko serta horizon investasi masing-masing guna mengoptimalkan potensi imbal hasil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *