Kinerja TBIG tertekan konsolidasi operator telekomunikasi, cek rekomendasi sahamnya

Scoot.co.id  JAKARTA. PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) mencatatkan penurunan kinerja keuangan di kuartal I-2026. Ini seiring dengan konsolidasi operator telekomunikasi, yang menekan pendapatan dan berimbas pada laba bersih TBIG.  

Melansir laporan keuangan per 31 Maret 2026, TBIG meraup pendapatan sebesar Rp 1,71 triliun. Ini turun tipis sekitar 0,79% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rp 1,73 triliun. 

Dari sisi bottom line, laba periode berjalan TBIG mencapai Rp 405,61 miliar di kuartal I-2026. Raihan tersebut menyusut 5,61% YoY dari posisi kuartal I-2026 yang mencapai Rp 429,23 miliar. 

Secara operasional, TBIG memiliki 41.764 penyewaan dan 24.666 sites telekomunikasi per 31 Maret 2026. Sites telekomunikasi milik TBIG terdiri dari 24.558 menara telekomunikasi dan 108 jaringan DAS. 

Pendapatan Turun, Laba TBIG Juga Ikut Menyusut di Kuartal I-2026

Adapun selama periode Januari–Maret 2026, total penyewa pada menara telekomunikasi TBIG mencapai 41.656 tenant. Dus, maka rasio kolokasi alias tenancy ratio TBIG menjadi 1,70 kali.

Wakil Presiden Direktur & CEO Tower Bersama Infrastructure Hardi Wijaya Liong menjelaskan, TBIG mencatat peningkatan yang signifikan dalam buku pesanan pada kuartal pertama di 2026. 

“Yakni, dengan penambahan 808 penyewaan bruto ke dalam portofolio kami, yang terdiri dari 599 sites telekomunikasi baru dan 209 kolokasi,” jelasnya belum lama ini. 

Hardi bilang meskipun penambahan penyewaan bersih terpengaruh oleh tidak dilanjutkannya kontrak dari XLSmart yang baru saja bergabung, tetapi kondisi permintaan yang mendasarinya tetap positif. 

Research Analyst CGS International Sekuritas Bob Setiadi dan Rut Yesika Simak memperbarui estimasi kinerja TBIG hingga akhir 2026 dengan menggunakan data operasional terbaru.

Mereka memangkas asumsi jumlah menara dan tenant 2026 sampai 2027 sebesar 3,8^–3,9% akibat rasionalisasi jaringan yang lebih cepat dari perkiraan setelah konsolidasi XL–SmartFren.

IHSG Rawan Melemah pada Senin (11/5), Intip Rekomendasi Saham Pilihannya

“Konsolidasi operator telekomunikasi diprediksi masih akan berlanjut dalam dua tahun ke depan sebelum mulai normal kembali pada 2028. Untuk 2026–2027, kami memproyeksikan pertumbuhan pendapatan TBIG sebesar 1,3%–1,9% YoY,” jelasnya dalam riset. 

Secara keseluruhan, Bob dan Rut memperkirakan, laba bersih TBIG pada pada tahun buku 2026 dan 2027 akan tumbuh bertahap sebesar 3%–5% per tahun menjadi Rp 1,5 triliun–Rp 1,58 triliun. Ini 5%–8% lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Sejalan dengan itu, Bob dan Rut juga memangkas target harga TBIG dari Rp 2.025 per saham menjadi Rp 1.925. Namun mereka tetap mempertahankan rekomendasi hold pada saham ini. 

  TBIG Chart by TradingView  

“TBIG masih mampu menghasilkan arus kas bebas yang solid sebesar Rp 3,2 triliun–Rp 3,5 triliun per tahun pada 2026–2026, meskipun valuasinya sebesar 12,2 kali EV/EBITDA 2026 masih lebih tinggi dibandingkan para pesaingnya,” tulis Bob dan Rut. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *