
Scoot.co.id JAKARTA. PT United Tractors Tbk (UNTR) menghadapi tantangan bisnis yang bukan main-main sejak awal 2026. Emiten ini pun mencoba mempertahankan kinerja dengan memaksimalkan setiap lini usahanya.
Dalam berita sebelumnya, UNTR mencatatkan kinerja operasional yang kurang menggembirakan pada sejumlah lini usaha dalam dua bulan pertama tahun 2026.
Berdasarkan laporan bulanan di situs perusahaan, penjualan alat berat merek Komatsu yang didistribusikan UNTR turun 10,50% year on year (YoY) menjadi 869 unit pada Januari-Februari 2026.
Di segmen kontraktor pertambangan, UNTR melalui PT Pamapersada Nusantara juga mencatatkan penurunan produksi batubara untuk pelanggan sebesar 6,85% YoY menjadi 20,4 juta ton pada Januari-Februari 2026.
Kinerja Ancol (PJAA) Tertekan pada Kuartal I-2026, Ini Penyebabnya
Volume overburden removal UNTR juga terkoreksi 7,49% yoy menjadi 156,9 juta bank cubic meter (bcm) pada Januari-Februari 2026.
Melalui PT Tuah Turangga Agung, UNTR juga mengalami penurunan penjualan batubara termal dan metalurgi sebesar 2,81% yoy menjadi 2,77 juta ton pada Januari-Februari 2026.
Di lini bisnis emas, aktivitas penjualan UNTR melalui Agincourt Resources dan Sumbawa Jutaraya belum terlihat signifikan. Hal ini terbukti dengan realisasi volume penjualan emas UNTR yang hanya 2.000 ounce pada Januari-Februari 2026, atau jauh menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yakni 38.000 ounce.
Sebaliknya, volume penjualan bijih nikel UNTR melalui Stargate mencapai 455.000 ton pada Januari-Februari 2026 atau tumbuh 30,37% yoy.
Presiden Direktur United Tractors Iwan Hadiantoro mengatakan, tahun 2026 masih menjadi tahun yang cukup menantang bagi UNTR. Salah satunya terlihat dari persetujuan izin produksi batubara pada Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang sempat terhambat, sehingga mempengaruhi aktivitas kontraktor pertambangan maupun produksi UNTR.
Permintaan alat berat UNTR juga mengalami perlambatan lantaran tak sedikit para pelaku usaha pertambangan yang menunda pembelian ketika RKAB belum disetujui. Belum lagi, UNTR juga menghadapi persaingan yang makin ketat dengan kompetitor merek alat berat asal China.
Walau tidak dirinci, pihak UNTR akan melakukan evaluasi terhadap capaian kinerja awal tahun dan tidak menutup kemungkinan akan merevisi target operasional untuk tahun ini.
Iwan menyatakan, UNTR akan menerapkan strategi yang lebih defensif pada 2026 seiring kondisi makro yang belum stabil. “Kami berusaha semaksimal mungkin untuk memantapkan bisnis-bisnis perusahaan dan pada saat yang sama kami masih didukung oleh balance sheet yang kuat,” ujar dia dalam konferensi pers usai RUPST, Kamis (16/4/2026).
Di samping itu, Iwan kembali menegaskan komitmen UNTR untuk tidak lagi bergantung pada satu sektor, melainkan aktif memperkuat portofolio bisnis lintas industri. Hal ini untuk meminimalisir risiko pada sektor-sektor industri seperti pertambangan batubara sekaligus menciptakan pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan.
United Tractors (UNTR) Akan Operasikan Kembali Tambang Emas Martabe pada Mei 2026
“Fokus baru kami adalah memperkuat portofolio di sektor pertambangan mineral dan energi,” tukas dia.
UNTR sendiri mendapat angin segar lantaran Agincourt Resources sudah diizinkan kembali mengoperasikan Tambang Emas Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Sebelumnya, Agincourt Resources menjadi salah satu dari 28 perusahaan yang dicabut izin operasionalnya oleh Kementerian Lingkungan Hidup, menyusul bencana di Sumatera pada November 2025.
Iwan menyebut, Tambang Emas Martabe bakal beroperasi lagi pada pertengahan 2026 setelah segala proses persiapannya tuntas. “Targetnya (produksi emas Martabe) sekitar 60.000 ounce untuk tahun ini,” imbuh dia.
Masih terkait segmen emas, UNTR mendapat aset baru setelah pada Februari 2026 anak usahanya yaitu PT Danusa Tambang Nusantara (DTN) dan PT Energia Prima Nusantara (EPN) menuntaskan rencana transaksi akuisisi Tambang Emas Doup yang dikelola entitas usaha PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB).
Saat ini, UNTR telah menyiapkan desain teknikal untuk pengembangan Tambang Emas Doup, yang mana tambang tersebut ditargetkan beroperasi 2028 mendatang.
Lebih lanjut, di tengah berbagai tekanan bisnis, UNTR tetap berusaha memberikan nilai tambah bagi para pemegang sahamnya. Untuk itu, UNTR memutuskan untuk membagikan dividen tunai sebesar Rp 1.663 per saham atau sebanyak-banyaknya Rp 5,92 triliun dari total laba bersih konsolidasian perusahaan tahun buku 2025 sebesar Rp 14,8 triliun.
Alokasi tersebut sudah termasuk dividen interim sebesar Rp 567 per saham atau seluruhnya berjumlah Rp 2,06 triliun yang telah dibayarkan pada 24 Oktober 2025. Alhasil, sisanya sebesar Rp 1.096 per saham akan dibagikan kepada pemegang saham UNTR sebagai dividen final.
Secara terpisah, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, UNTR masih menjadi emiten yang punya daya tarik bagi investor. Komitmennya untuk terus membagikan dividen justru mencerminkan keunggulan UNTR yang memiliki arus kas solid di tengah normalisasi harga batubara.
Hanya saja, dalam jangka pendek investor perlu hati-hati lantaran keterlambatan persetujuan RKAB dan kendala izin operasional Agincourt Resources dapat mempengaruhi kinerja UNTR. “Ini bisa membuat kinerja kuartal I-2026 dan semester I-2026 UNTR melambat secara year on year,” kata dia, Kamis (16/4/2026).
Menurut Wafi, UNTR harus meningkatkan ekspansi di segmen non-batubara sebagai sumber pendapatan tambahan dalam jangka panjang. Di sisi lain, efisiensi di segmen kontraktor pertambangan juga mesti dijaga untuk meredam efek volatilitas harga energi.
Lantas, Wafi merekomendasikan hold saham UNTR dengan target harga di level Rp 28.000 per saham.