
Scoot.co.id JAKARTA. Perusahaan securities crowdfunding atau urun dana PT Investasi Digital Nusantara (Bizhare) menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi sebesar 5,25% dapat mempengaruhi preferensi sebagian investor, terutama mereka yang lebih konservatif dan sedang mencari instrumen lebih likuid atau berisiko lebih rendah seperti produk perbankan.
Namun, Founder & CEO Bizhare Heinrich Vincent optimistis securities crowdfunding justru bisa menjadi peluang bagi investor untuk mencari alternatif investasi ke sektor riil, terlebih di tengah situasi pasar modal yang tidak menentu dan nilai tukar rupiah yang sedang melemah. Dia menilai produk perbankan seperti deposito dirasa tidak cukup kuat dalam mencapai return terbaik yang diharapkan, sehingga risk dan reward-nya menjadi tidak sebanding.
“Berbeda dengan produk perbankan, instrumen efek di urun dana, baik melalui saham, sukuk, maupun obligasi, memberikan angin segar dan solusi bagi investor yang ingin mendapatkan return yang relatif lebih besar dan terukur,” ungkapnya kepada Kontan, Senin (1/6/2026).
Porsi Penjaminan Produktif Masih Dominan, Industri Waspadai Pelemahan Ekonomi
Heinrich juga berpendapat investor yang masuk ke urun dana selain mempertimbangkan imbal hasil yang menarik, juga melihat kualitas bisnis, prospek usaha, rekam jejak penerbit, struktur pendanaan, serta makna yang tercipta agar dapat berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara lebih luas.
Di tengah kenaikan suku bunga BI, Bizhare akan menerapkan sejumlah strategi agar investor tetap melirik urun dana dalam berinvestasi. Heinrich bilang Bizhare akan memperkuat beberapa hal, yakni proses kurasi penerbit dan proyek agar bisnis yang ditawarkan memiliki fundamental, rekam jejak, dan prospek yang lebih baik, serta memiliki mitigasi risiko yang lebih terukur baik efek saham, obligasi maupun sukuk.
“Selain itu, mengedepankan penyajian informasi dan laporan penerbit yang makin transparan agar investor dapat merasa lebih aman, memahami kondisi bisnis, risiko, potensi imbal hasil, skema bisnis, dan mitigasi risiko yang tersedia,” tuturnya.
Heinrich menerangkan pihaknya juga melakukan pemilihan skema bisnis yang lebih aman dan menghasilkan keuntungan menarik kepada investor, seperti sukuk atau obligasi korporasi dari vendor perusahaan besar dan terpercaya. Dengan demikian, dapat memitigasi risiko.
Heinrich mencontohkan, untuk jenis efek saham, Bizhare menerapkan skema mitigasi berupa minimum guarantee dari penerbit berdasarkan data historis, seperti SWAP Station, yang terbukti secara historis mencapai hingga 43% per tahun. Namun, dia bilang ternyata secara realisasi dapat mencapai hingga 60% per annum (p.a), sehingga menarik dan aman bagi para investor.
Allianz Life Nilai Volatilitas Pasar Modal Dapat Pengaruhi Kinerja Unitlink Saham
Lebih lanjut, Heinrich menerangkan imbal hasil yang diperoleh investor di Bizhare bervariasi, tergantung jenis efek dan karakteristik penerbit. Untuk efek bersifat utang atau sukuk, investor dapat melihat imbal hasil atau nisbah sesuai informasi yang disampaikan dalam penawaran masing-masing penerbit setara dengan return 15%-20% per tahun.
Adapun Bizhare mencatatkan total dana yang dihimpun lebih dari Rp 300 miliar pada kuartal I-2026. Dana tersebut sudah diinvestasikan ke 200 penerbit di seluruh Indonesia, dengan 400.000 investor terdaftar di Bizhare.