
Scoot.co.id JAKARTA. PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) alias Mitratel berencana menambah kegiatan usaha baru untuk mendukung model bisnis Power as a Service (PaaS) pada infrastruktur menara telekomunikasi.
Entitas usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) ini akan menambah tiga kode Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) baru yang akan dimasukkan ke dalam anggaran dasar.
Pertama, pemasangan jaringan listrik (KBLI 43211). Kedua, pengoperasian instalasi penyediaan tenaga listrik (KBLI 35151). Ketiga, penyediaan tenaga listrik dalam satu kesatuan usaha (KBLI 35140).
Rupiah Menguat ke Rp 17.143, Pasar Cermati Geopolitik dan Kredibilitas Fiskal RI
VP Investor Relations Dayamitra Telekomunikasi Alif Bajara menyampaikan penambahan lini bisnis ini diharapkan memperkuat posisi perseroan sebagai penyedia infrastruktur digital terintegrasi.
Berdasarkan keterbukaan informasi, rencana tersebut diproyeksikan menghasilkan Net Present Value (NPV) senilai Rp 28,18 miliar. Tingkat pengembalian modal atau Internal Rate of Return (IRR) diperkirakan mencapai 11,90%.
Pengembalian modal alias payback period dipatok selama 7 tahun 8 bulan dengan Return on Investment (ROI) berada di angka 8,60%. Ekspansi ini diprediksi memberikan dampak positif pada kinerja keuangan perseroan periode 2026-2035.
Pendapatan dari bidang usaha baru ini diperkirakan menyumbang 4,9% terhadap total pendapatan konsolidasi MTEL. Rata-rata margin laba bersih dari penambahan lini bisnis baru diproyeksikan sebesar 9,6%
Equity Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Daniel Aditya menjelaskan selama ini untuk suplai listrik di Mitratel berasal dari pihak ketiga, yang mayoritas berasal dari PLN.
“MTEL itu akan masuk ke lini bisnis baru untuk PaaS untuk mereka bisa suplai listrik dari sisi internal dan tidak bergantung kepada pihak ketiga,” jelasnya dalam paparan, Selasa (21/4).
Lepas Ekspor Produk Kelapa, OJK Dorong Pengemban Ekonomi di Sumatra Selatan
Lebih lanjut, Mirae Asset Sekuritas menyematkan rekomendasi beli untuk MTEL dengan target harga Rp 760 per saham. Ini mengimplikasikan EV/EBITDA sebesar 9,9 kali untuk tahun buku 2026.
Daniel menjelaskan meskipun pertumbuhan pendapatan dan EBITDA masih relatif terbatas di tengah lemahnya permintaan menara, tetapi dia tetap menyukai Mitratel karena prospek laba yang stabil serta neraca keuangan yang sehat.
“Katalis utama untuk kenaikan mencakup percepatan fiberisasi menara seiring ekspansi 5G oleh operator jaringan seluler serta tambahan permintaan dari layanan,” paparnya.