Pasar masih volatil, ini rekomendasi reksadana untuk investor pemula

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan domestik, peluang investasi reksadana masih terbuka lebar, namun investor kini dituntut lebih selektif dalam memilih instrumen sesuai profil risiko masing-masing.

Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management, Genta Wira Anjalu menilai, pemilihan reksadana sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.

Untuk investor konservatif, ia menyebut reksadana pasar uang masih menjadi pilihan utama karena karakteristiknya yang stabil.

Laba Bangun Kosambi Sukses (CBDK) Melonjak 317% pada Kuartal I-2026

“Reksadana pasar uang masih menjadi pilihan paling sesuai karena volatilitasnya rendah dan likuiditasnya tinggi,” ujar Genta kepada Kontan, Senin (4/5/2026).

Sementara itu, investor dengan profil moderat dapat mempertimbangkan reksadana pendapatan tetap maupun reksadana campuran konservatif.

Menurut Genta, reksadana pendapatan tetap berpotensi mendapatkan keuntungan dari pergerakan yield obligasi, sedangkan reksadana campuran memberikan peluang tambahan dari saham dengan risiko yang lebih terdiversifikasi.

Pandangan serupa disampaikan Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPMA), Reza Fahmi Riawan.

Ia menekankan bahwa pemilihan instrumen tetap harus mempertimbangkan profil risiko dan horizon investasi.

“Untuk profil konservatif, reksadana pasar uang dan pendapatan tetap jangka pendek–menengah masih relevan karena menawarkan stabilitas yang lebih tinggi,” kata Reza.

Adapun bagi investor moderat, reksadana campuran dinilai dapat menjadi alternatif untuk memperoleh keseimbangan antara potensi imbal hasil dan risiko.

Kinerja Reksadana April 2026 Membaik, Begini Prospeknya

“Reksadana campuran bisa memberikan keseimbangan antara potensi imbal hasil dan pengelolaan risiko, terutama dalam kondisi pasar yang dinamis,” ujar Reza.

Meski demikian, kedua analis mengingatkan bahwa investor tetap perlu mewaspadai sejumlah risiko ke depan.

Genta menyebut risiko global masih menjadi perhatian utama, terutama terkait arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), pergerakan yield US Treasury, serta tensi geopolitik.

Selain itu, risiko nilai tukar rupiah juga perlu dicermati karena dapat memengaruhi sentimen terhadap aset domestik.

“Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah inflasi dan harga komoditas, khususnya energi, yang dapat berdampak pada kebijakan moneter dan daya beli,” jelas Genta.

Dari sisi domestik, ia menambahkan investor juga perlu memperhatikan kinerja emiten, arah belanja pemerintah, serta arus dana asing di pasar keuangan.

Untuk masing-masing jenis reksadana, risiko yang dihadapi pun berbeda. Reksadana saham masih memiliki potensi volatilitas tinggi, sementara reksadana pendapatan tetap sensitif terhadap perubahan yield obligasi.

Sejalan dengan itu, Reza menilai ketidakpastian global dan dinamika geopolitik masih akan memengaruhi pergerakan pasar dalam jangka pendek.

Kinerja Emiten BUMN Karya Beda Arah Kuartal I 2026, Simak Prospeknya Tahun Ini

“Volatilitas berpotensi meningkat apabila terjadi perubahan sentimen yang cepat, baik dari faktor eksternal maupun domestik,” ujarnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya disiplin dalam alokasi aset serta pemahaman terhadap profil risiko masing-masing investor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *