Pemerintah revisi formula harga patokan mineral, ini dampaknya bagi emiten nikel

Scoot.co.id JAKARTA. Kebijakan pemerintah yang mengubah formula Harga Patokan Mineral (HPM) mulai 15 April 2026 akan mempengaruhi kelangsungan usaha emiten-emiten produsen nikel, baik yang fokus di sektor hulu maupun hilir.

Sebagaimana diketahui, revisi formula HPM mengacu pada Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Kepmen ESDM) Nomor 144.K/MB.01/MEM.B/2026. Beleid ini merupakan perubahan atas Kepmen ESDM Nomor 268.K/MB.01/MEM.B/2025 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Penjualan Komoditas Mineral Logam dan Batubara.

Regulasi terbaru ini mengatur beberapa perubahan substansial. Terkait komoditas nikel, peraturan ini memuat formula bijih nikel melalui penyesuaian pada Corrective Factor (CF) serta penambahan mineral ikutan (besi, kobalt, dan krom) dalam perhitungan HPM. Selain itu, terjadi perubahan satuan harga, di mana transisi satuan HPM pada bijih dari yang sebelumnya dolar Amerika Serikat (US$) per Dry Metric Ton (DMT) menjadi US$ per Wet Metric Ton (WMT). 

Konflik Global Memanas, Harga Emas Berpeluang Lanjut Reli

Harga nikel sendiri telah menguat 4,02% dalam sepekan terakhir ke level US$ 17.985 per saham hingga Jumat (17/4/2026), menurut situs Trading Economics.

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, revisi formula HPM nikel bakal menjadi angin segar untuk emiten penambang bijih nikel. Pasalnya, harga bijih nikel berpotensi naik seiring perubahan formula yang mulai memasukkan mineral ikutan dan basis wmt. Jadi, bagi emiten yang fokus di penjualan ore, peraturan baru ini cenderung positif karena bisa mendorong Average Selling Price (ASP) atau harga jual rata-rata yang lebih tinggi. 

Namun, revisi formula HPM terbaru justru menimbulkan dampak yang lebih bervariasi bagi emiten nikel yang juga mengelola smelter. Sebab, biaya bahan baku bakal ikut naik.

“Jadi menurut saya, HPM baru ini positif untuk upstream, tetapi belum tentu positif untuk downstream kalau harga produk turunannya tidak naik secepat ore,” ujar dia, Jumat (17/4/2026).

Kinerja Emiten Konstruksi Masih Hadapi Tantangan pada 2026, Simak Proyeksinya

Sementara menurut Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty menyebut, perhitungan formula HPM yang kini memasukkan mineral ikutan membuat harga bijih nikel lebih mencerminkan nilai ekonominya. Perubahan satuan ke wmt juga mendorong transparansi harga dan berpotensi mengerek ASP bagi para penambang, apalagi didukung oleh kenaikan harga nikel global.

“Dampaknya cukup signifikan terhadap kelangsungan usaha emiten pemain hulu karena margin berpotensi melebar dan arus kas menjadi lebih kuat,” kata dia, Jumat (17/4/2026).

Di sisi lain, bagi emiten yang memiliki atau mengelola smelter, revisi aturan ini justru bisa menambah tekanan biaya karena harga bijih domestik naik mengikuti HPM baru. Sebaliknya, harga produk hilir tidak selalu naik secepat biaya bahan baku, sehingga margin pengolahan bisa tergerus. Oleh karena itu, kebijakan ini cenderung lebih menguntungkan penambang dibandingkan pengelola smelter, terutama bagi emiten yang tidak memiliki tambang sendiri.

Secara umum, prospek kinerja emiten nikel pada tahun ini masih cukup positif, tetapi sangat bergantung pada posisi dalam rantai nilai. Emiten nikel sektor hulu berpeluang mencatatkan kinerja yang lebih baik dalam jangka pendek seiring kenaikan harga nikel dan implementasi HPM baru yang meningkatkan harga jual produk mereka. 

Dibayangi Sentimen Geopolitik, Begini Proyeksi Rupiah untuk Senin (20/4)

Emiten nikel hilir dan terintegrasi sebenarnya tetap memiliki peluang tumbuh, namun kinerjanya akan lebih bergantung pada kemampuan menjaga efisiensi dan mendapatkan harga premium dari produk bernilai tambah. 

Selain faktor HPM dan harga komoditas, kinerja emiten nikel tahun ini juga dipengaruhi oleh permintaan global dari industri kendaraan listrik, terutama dari China, serta kebijakan hilirisasi pemerintah. 

Dinamika pasokan global yang masih tinggi, termasuk dari Indonesia, turut berpotensi menahan kenaikan harga. “Di sisi lain, biaya energi dan batubara tetap menjadi faktor penting karena sangat mempengaruhi struktur biaya smelter,” tukas Arinda.

Arinda melanjutkan, untuk meningkatkan kinerja pada 2026 dan memaksimalkan formula HPM baru, emiten produsen nikel perlu memperkuat integrasi vertikal agar memiliki sumber bijih sendiri. Dengan begitu, mereka tidak terlalu terpapar kenaikan harga bahan baku. 

Upaya diversifikasi ke produk bernilai tambah tinggi seperti bahan baku baterai juga penting dilakukan emiten nikel untuk meningkatkan daya tawar harga. Pengelolaan kontrak penjualan dan pembelian yang lebih fleksibel juga dapat membantu emiten nikel dalam menjaga stabilitas margin di tengah volatilitas harga. 

IHSG Berpeluang Menguat Terbatas pada Senin (20/4), Ini Rekomendasi Sahamnya

Sedangkan menurut Ekky, strategi yang perlu diperkuat emiten nikel saat ini adalah menjaga struktur biaya, mengamankan pasokan bijih nikel, dan fokus pada integrasi yang memang ekonomis. “Jadi, emiten yang akan unggul bukan hanya yang punya eksposur nikel, tetapi yang paling siap dari sisi biaya, integrasi, dan neraca,” imbuh dia.

Ekky pun menjagokan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) di sektor nikel. ANTM dipandang menarik karena memiliki portofolio yang seimbang antara komoditas nikel dan emas. Saham emiten tersebut ditargetkan dapat menyentuh kisaran Rp 4.500—Rp 4.600 per saham.

Saham INCO dinilai menarik jika harga nikel tetap tinggi. Harga saham emiten ini diperkirakan dapat bergerak di kisaran Rp 7.800—Rp 8.000 per saham.

Di samping itu, Ekky juga menganggap saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) layak dipertimbangkan investor, meski harus tetap selektif lantaran tekanan formula HPM baru ke smelter bisa lebih terasa. Saham MBMA ditargetkan bergerak di level Rp 800—Rp 900 per saham.

Di lain pihak, Arinda menyebut saham INCO, MBMA, dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dapat dipertimbangkan oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 7.800 per saham, Rp 800 per saham, dan Rp 1.750 per saham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *