
Scoot.co.id JAKARTA. PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) menghadapi tahun 2025 dengan pencapaian pendapatan yang relatif stabil, namun laba bersih perseroan mengalami tekanan yang signifikan.
Berdasarkan laporan keuangan terbaru, pendapatan usaha PT Bukit Asam tercatat menurun tipis 0,27% secara tahunan (year-on-year/yoy), mencapai Rp 42,65 triliun dari Rp 42,76 triliun pada tahun sebelumnya. Kendati demikian, pencapaian ini diimbangi dengan penurunan laba bersih yang lebih substansial.
Laba bersih perseroan terpangkas cukup dalam, yakni sebesar 42,55% yoy, menjadi Rp 2,93 triliun dari Rp 5,10 triliun pada tahun sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan tantangan dinamika pasar batubara global sepanjang tahun 2025.
Dari total penjualan hingga akhir Desember 2025, penjualan domestik PTBA mendominasi sebesar 54%, sementara sisanya 46% disalurkan untuk kebutuhan ekspor. Pasar ekspor utama perseroan masih kuat di Asia, dengan lima negara tujuan terbesar meliputi Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina.
United Tractors (UNTR) Memulai Periode Buyback Saham Senilai Rp 2 Triliun
Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menjelaskan bahwa secara operasional, perseroan berhasil mencatat peningkatan volume penjualan sebesar 6% yoy, mencapai 45,42 juta ton. Namun, kenaikan volume ini tidak sepenuhnya mengkompensasi dampak pelemahan harga batubara global. Indeks Newcastle turun 22% yoy dan ICI-3 melemah 16% yoy, berimbas pada penurunan harga jual rata-rata sebesar 6% yoy.
“Di tengah tekanan harga batubara global sepanjang 2025, PTBA tetap mampu mempertahankan kinerja operasional yang solid. Perseroan juga mencatat perbaikan profitabilitas secara kuartalan, didorong oleh optimalisasi portofolio pasar ekspor dan peningkatan efisiensi biaya,” ujar Arsal dalam keterangan resmi pada Rabu (1/4/2026).
Arsal menambahkan, kinerja PTBA yang resilien ini turut didukung oleh pertumbuhan volume produksi dan penjualan yang positif. Realisasi belanja modal (capital expenditure/capex) yang optimal juga menjadi fondasi krusial bagi keberlanjutan dan pertumbuhan operasional di masa depan.
Pada tahun 2025, realisasi capex PTBA mencapai 63% dari target tahunan, atau sebesar Rp 4,55 triliun, menunjukkan komitmen perseroan terhadap investasi jangka panjang.
Lebih lanjut, beban pokok pendapatan tercatat sebesar Rp 36,39 triliun, naik 5% yoy. Kenaikan ini sejalan dengan peningkatan volume operasional, baik produksi batubara yang tumbuh 9% yoy maupun angkutan yang juga naik 6% yoy. Selain itu, pencabutan subsidi komponen FAME pada biodiesel dan kewajiban penggunaan B40 turut menaikkan harga BBM per liter sebesar 13% secara tahunan.
Faktor-faktor ini, seperti dicermati PTBA, secara otomatis meningkatkan biaya bahan bakar yang esensial bagi kegiatan penambangan dan operasional kereta api perseroan. Di samping itu, beban umum dan administrasi naik Rp 261,88 miliar atau 13% secara tahunan, serta beban penjualan meningkat 3% atau Rp 23,58 miliar.
Menatap tahun 2026, PTBA menargetkan volume produksi sebesar 49,55 juta ton, volume penjualan 49,51 juta ton, dan volume angkutan 41 juta ton. Adapun target capex PTBA untuk tahun ini direncanakan sebesar Rp 3,64 triliun, mendukung ekspansi dan efisiensi operasional.
Eko Prayitno, Corporate Secretary Division Head PTBA, menambahkan bahwa meskipun harga batubara sempat tertekan, perseroan mampu menjaga resiliensi. “Dengan dukungan strategi pemasaran yang adaptif dan efisiensi operasional yang berkelanjutan, PTBA optimistis dapat memanfaatkan momentum perbaikan harga ke depan sekaligus memperluas portofolio usaha yang berkelanjutan,” pungkas Eko, menegaskan visi jangka panjang perusahaan.
Kinerja BUMA Internasional Grup (DOID) Tertekan pada 2025, Begini Rekomendasi Analis