Prospek emiten semen 2026 masih berat, SMGR dan INTP dinilai paling tangguh

Scoot.co.id JAKARTA. Ruang pertumbuhan kinerja emiten-emiten produsen semen diperkirakan cenderung terbatas selepas kuartal I-2026. Hal ini seiring masih kuatnya tekanan struktural yang membayangi industri semen nasional, mulai dari kelebihan kapasitas hingga persaingan harga yang ketat.

Meski demikian, sejumlah emiten semen masih mampu mencatatkan perbaikan kinerja pada awal tahun 2026 melalui strategi efisiensi, perbaikan harga jual rata-rata, hingga optimalisasi pasar ekspor dan proyek infrastruktur.

PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), misalnya, berhasil membukukan kenaikan pendapatan sebesar 8,37% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 8,29 triliun pada kuartal I-2026. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga melonjak 88,68% yoy menjadi Rp 80,34 miliar.

Corporate Secretary Semen Indonesia Vita Mahreyni menyebut capaian tersebut menjadi bukti bahwa strategi transformasi yang dijalankan perusahaan mampu menjaga resiliensi bisnis sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Lautan Luas (LTLS) Tebar Dividen Rp 31 per Saham, Cek Jadwal Cairnya

“Transformasi bisnis yang dijalankan secara disiplin berhasil meningkatkan daya saing perusahaan di tengah tantangan industri,” kata Vita dalam keterangan resmi, Kamis (7/5/2026).

SMGR saat ini juga terus memperkuat penetrasi pasar ekspor sebagai langkah strategis untuk meningkatkan utilisasi pabrik. Selain itu, perusahaan memperluas peluang pasar produk derivatif bernilai tambah guna menciptakan sumber pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan.

Kinerja positif juga dicatatkan anak usaha SMGR, yakni PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB). Pada kuartal I-2026, SMCB membukukan kenaikan pendapatan sebesar 3,64% yoy menjadi Rp 2,56 triliun. Laba bersih tahun berjalan SMCB bahkan meningkat 111,30% yoy menjadi Rp 101,89 miliar.

Sementara itu, PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT) mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 7,77% yoy menjadi Rp 2,08 triliun. CMNT juga berhasil memangkas rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 69,59% yoy menjadi Rp 88,12 miliar.

Di sisi lain, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mengalami penurunan pendapatan sebesar 3,52% yoy menjadi Rp 3,84 triliun pada kuartal I-2026. Kendati demikian, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk masih tumbuh 2,14% yoy menjadi Rp 215,19 miliar.

Adapun PT Semen Baturaja Tbk (SMBR), yang merupakan anak usaha SMGR di wilayah Sumatera bagian selatan, mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 16,75% yoy menjadi Rp 439,40 miliar. Laba bersih SMBR juga turun 64,62% yoy menjadi Rp 17,32 miliar.

Proyeksi IHSG Pekan Depan: Koreksi Terbatas atau Rebound? Cek Rekomendasi Sahamnya

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai pertumbuhan kinerja SMGR, SMCB, dan CMNT terutama ditopang oleh efisiensi biaya, perbaikan average selling price (ASP), serta kontribusi proyek infrastruktur dan pasar regional tertentu.

“Untuk CMNT, rugi yang menyempit lebih dikareakan oleh restrukturisasi dan efisiensi, ketimbang faktor permintaan yang kuat,” kata dia, Jumat (8/5/2026).

Menurut Wafi, pelemahan volume penjualan dan ketatnya persaingan harga masih menjadi tantangan utama yang membebani kinerja INTP dan SMBR.

Ia menambahkan, prospek industri semen nasional masih cukup menantang meskipun kondisi pasar mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Persoalan kelebihan kapasitas industri semen dinilai masih menjadi hambatan utama sehingga ruang peningkatan margin keuntungan relatif terbatas.

Pandangan serupa disampaikan Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta. Ia menilai pertumbuhan sektor semen masih akan terbatas selama permintaan belum pulih secara konsisten dan kapasitas produksi industri masih berlebih.

Menurut Nafan, sektor semen berpotensi tumbuh lebih signifikan apabila terjadi peningkatan kebutuhan semen dari proyek-proyek infrastruktur atau adanya pelonggaran moneter yang lebih agresif.

“Pelonggaran moneter akan memacu pertumbuhan sektor properti yang jadi salah satu penopang utama penjualan semen,” imbuh dia, Jumat (8/5/2026).

Peluang Penguatan Rupiah Masih Terbuka, Simak Proyeksinya untuk Pekan Depan

Selain tantangan permintaan, emiten produsen semen juga menghadapi tekanan dari kenaikan biaya energi, terutama akibat naiknya harga minyak dunia dan batubara. Padahal, biaya energi merupakan salah satu komponen terbesar dalam struktur biaya produksi semen.

Karena itu, para emiten dinilai perlu terus memperkuat efisiensi energi dan mengoptimalkan penggunaan sumber energi alternatif. Penguatan struktur permodalan, distribusi, serta diversifikasi wilayah pemasaran juga menjadi strategi penting untuk menjaga kinerja penjualan di tengah pasar yang masih lesu.

Wafi menilai emiten semen yang memiliki peluang bertahan lebih baik adalah perusahaan dengan skala bisnis besar, jaringan distribusi kuat, efisiensi energi tinggi, serta eksposur terhadap proyek infrastruktur strategis dan pasar premium.

Dalam kondisi saat ini, SMGR dan INTP dinilai masih relatif unggul karena memiliki pangsa pasar besar dan neraca keuangan yang solid.

“Kunci utama bagi emiten semen sekarang bukan pertumbuhan tinggi, tapi kemampuan menjaga margin dan utilitas pabrik,” tuturnya.

Untuk rekomendasi investasi, Wafi menilai saham SMGR dan INTP masih layak dipertimbangkan investor. Ia memasang target harga SMGR di level Rp 5.500 per saham dan INTP sebesar Rp 8.500 per saham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *