
Scoot.co.id JAKARTA. Kinerja emiten properti kawasan industri dinilai masuk tren pemulihan di tahun 2026. Sentimen peningkatan pertumbuhan ekonomi dan realisasi penerimaan modal asing (PMA) di kuartal I 2026 menjadi katalis utama untuk pemulihan kinerja emiten kawasan industri di tahun ini.
Tren pemulihan juga didorong oleh peningkatan kinerja sejumlah emiten properti kawasan industri di tiga bulan pertama tahun ini.
Tengok saja, kinerja PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) mengantongi pendapatan usaha sebesar Rp1,05 triliun pada kuartal I 2026, melonjak sebesar 107% dibandingkan dengan kuartal pertama tahun 2025 sebesar Rp507,89 miliar. Laba bersih DMAS tercatat Rp 818,27 miliar, naik 130% year on year (YoY).
Segmen industri menjadi kontributor utama pendapatan usaha DMAS, dengan kontribusi lebih dari 90% berasal dari penjualan lahan industri, yaitu sebesar Rp1,03 triliun.
“Sektor data center masih mendominasi penjualan lahan industri,” ujar Tondy Suwanto, Direktur dan Sekretaris Perusahaan DMAS dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Medela Potentia (MDLA) Akan Bagi Dividen Rp 12,6 per Saham
PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) membukukan kenaikan pendapatan usaha sebesar Rp 1,44 triliun sepanjang kuartal I, naik 35% dari Rp 1,07 triliun. SSIA juga mampu membalikkan rugi bersih Rp 21,70 miliar di kuartal I 2025 menjadi laba bersih Rp 89,01 miliar di kuartal I 2026.
Sayangnya, PT Jababeka Tbk (KIJA) membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp1,19 triliun pada kuartal pertama tahun 2026, menurun dibandingkan Rp1,29 triliun pada kuartal I-2025. KIJA mencetak laba bersih sebesar Rp164,0 miliar, turun sekitar 18% dibandingkan Rp 200,5 miliar di tahun sebelumnya.
Penurunan pendapatan di kuartal I 2026 disebabkan oleh terkoreksinya segmen pilar land development & Property menjadi Rp507,1 miliar, dari sebelumnya Rp690,1 miliar pada kuartal I-2025.
Penurunan ini terutama berasal dari penjualan tanah matang yang tercatat sebesar Rp433,9 miliar dibandingkan Rp638,5 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Penurunan penjualan lahan industri tersebut terutama berasal dari Cikarang dan Kendal, yang sebagian besar disebabkan oleh perbedaan waktu pengakuan pendapatan,” ungkap Corporate Secretary KIJA, Muljadi Suganda, dalam keterbukaan informasi di BEI.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, peningkatan kinerja KIJA dan DMAS didorong peningkatan penjualan lahan industri, permintaan data center/manufaktur, serta mulai pulihnya aktivitas investasi.
“Sektor ini memang mulai masuk fase recovery, walau belum sepenuhnya rata,” ujarnya kepada Kontan, Senin (11/5).
Pertumbuhan pendapatan domestik bruto (PDB) sebesar 5,61% dan PMA sebesar 7,2% YoY di kuartal I 2026 menjadi katalis utama untuk mendongkrak kinerja mereka di sisa tahun ini.
“Sektor kawasan industri sangat bergantung pada ekspansi manufaktur dan investasi asing,” kata Wafi.
Sentimen positif untuk emiten sektor ini adalah relokasi industri, hilirisasi, data center, dan insentif pemerintah.
Sementara, sentimen negatif berasal dari suku bunga tinggi, perlambatan global, dan ketidakpastian geopolitik.
Secara kinerja fundamental, DMAS masih paling solid, karena neraca keuangan yang kuat dan eksposur yang besar untuk data center. Sementara, dari sisi valuasi, saham mereka masih relatif menarik dibanding potensi pertumbuhan jangka menengahnya.
“Tapi pasar sekarang lebih selektif. Emiten dengan recurring income dan land bank strategis lebih dihargai premium. Jadi saham mereka belum overvalued, terutama untuk DMAS dan SSIA,” ungkapnya.
Wafi pun merekomendasikan beli untuk DMAS, SSIA, dan KIJA dengan target harga masing-masing Rp 260 per saham, Rp 1.750 per saham, dan Rp 240 per saham.
Analis Kiwoom Sekuritas Adrian Djie melihat, sentimen positif pada sektor ini mencakup pertumbuhan ekonomi 5,61%, potensi penurunan suku bunga BI, dan perkembangan ekosistem electric vehicle (EV).
“Di sisi lain, risiko utama meliputi pelemahan rupiah, ketidakpastian tarif perdagangan AS yang dapat menahan ekspansi pabrik berorientasi ekspor, serta perlambatan ekonomi China,” ungkapnya.
Valuasi saham SSIA, KIJA, dan DMAS pun dinilai masih berada pada tingkat yang wajar dan masih layak untuk dikoleksi.
Adrian pun menyarankan beli SSIA, KIJA, dan DMAS untuk trading jangka pendek dengan target harga masing-masing Rp 1.875 per saham, Rp 184 per saham, dan Rp 154 per saham.
Meningkat 20%, Penerbitan Obligasi Korporasi Hingga April Capai Rp 67,05 Triliun